Benyamin Leu Soroti Budaya di NTT: Sagi, Caci dan Perburuan Ikan Paus yang Tak Ramah Anak

Benyamin Leu Soroti Budaya di NTT, Sagi, Caci dan Perburuan Ikan Paus yang Tak Ramah Anak

POSKUPANGWIKI.COM, KUPANG - Benyamin Leu Soroti Budaya di NTT, Sagi, Caci dan Perburuan Ikan Paus yang Tak Ramah Anak

Benyamin Leu alias Benni dari Save The Children dan aliansi PKTA serta Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Nusa Tenggara Timur (NTT), Veronika Ata, SH., M. Hum menyoroti sejumlah budaya di NTT yang tak ramah anak.

Menurut mereka sejumlah atraksi budaya itu mesti dipertimbangkan agar tidak menempatkan anak sebagai objek, sebab budaya itu bisa menimbulkan tindak kekerasan terhadap anak.

Benni dan Veronika Ata menyoroti hal itu dalam diskusi penghapusan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak yang digelar Forum Parlemen Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan (IFPPD) NTT bersama Aliansi PKTA dan Harian Umum Pos Kupang, di Kantor Pos Kupang, akhir tahun 2019 lalu.

Fantastik, Selembar Tenun Ikat NTT Bisa Capai Harga Ratusan Juta Rupiah, Ini Alasannya

Suasana diskusi penghapusan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak yang digelar Forum Parlemen Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan (IFPPD) NTT bersama Aliansi PKTA dan Harian Umum Pos Kupang, di Kantor Pos Kupang, akhir tahun 2019 lalu.
Suasana diskusi penghapusan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak yang digelar Forum Parlemen Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan (IFPPD) NTT bersama Aliansi PKTA dan Harian Umum Pos Kupang, di Kantor Pos Kupang, akhir tahun 2019 lalu. (poskupangwiki.com/novemy leo)

Menurut Benni sejumlah budaya yang ada di NTT cenderung tidak ramah anak. Dan tradisi budaya yang melibatkan anak seperti itu dapat menjadi pemicu terjadinya tindak kekerasan terhadap anak.

Dicontohkan Benni, adanya atraksi Budaya Sagi (tinju adat) di Soa Bajawa, Kabupaten Ngada dan di Boawae Kabupaten Nagekeo, Budaya Caci di Manggarai dan budaya perburuan ikan paus di Kabupaten Lembata.

"Tradisi budaya seperti ini bagus namun jika melibatkan anak sebagai kontestan itu yang mesti dipertimbangkan kita bersama," kritik Benni.

Veronika Atta emenyebutkan, dasar dari terjadinya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di NTT yakni konstruksi sosial dan budaya. Budaya menjadi penyebab dasarnya, dan hal lainnya mengikuti.

"Budaya, dimana menempatkan perempuan dan anak itu dinomor duakan, diberi label negatif. Budaya adalah akar tunggangnya, sedangkan akar serabutnya antara lain soal hukum substansi hukum apakah aturan yang ada sudah melindungi, merespon kebutuhan perempuan dan anak atau belum. Juga aspek aparat penegak hukumnya atau struktur hukum," kata Veronika Ata.

Sebab masih banyak aparat penegak yang belum punya sensitifitas dan pemahaman yang baik sehingga perilakunya belum ramah terhadap korban perempuan dan anak korban kekerasan. Juga kultur hukum budaya yang melihat anaksebagai pelaku itu kita lebih mempersalahkan atau membuli atau tetap melindungi anak sebagai pelaku.

Halaman
123
Ikuti kami di
Penulis: Novemyleo
Editor: Dinar Fitra Maghiszha
Sumber: Pos Kupang
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved