Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Darurat Kekerasan Seksual? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Darurat Kekerasan Seksual? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya.

POSKUPANGWIKI.COM, KUPANG - Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Darurat Kekerasan Seksual? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya.

Kekerasan seksual adalah tindakan yang mengarah pada ajakan seksual tanpa persetujuan. Tindakan ini juga termasuk dalam tindakan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh orang dewasa.

Pada anak atau individu yang terlalu muda untuk menyatakan persetujuan, ini disebut dengan pelecehan seksual terhadap anak.

Ketua Presidium Aliansi PKTA NTT, Benyamin Leu alias Benni mengatakan berdasarkan data yang berhasil dihimpun sejak tahun 2002-2018 telah terjadi 3.826 kasus. Dari 3.826 kasus tersebut sebanyak 1.421 kasus KDRT dan 627 kasus kekerasan terhadap anak-anak.

Disamping itu tambahnya, berdasarkan data yang dihimpun dari Polres Kupang, pada tahun 2018 sebanyak 34 kasus kekerasan yang ditangani oleh Polres Kupang dan Bulan Juli tahun 2019 sebanyak 29 kasus.

Benyamin Leu (kiri) dari Save The Children dan Aliansi PKTA, dalam  diskusi penghapusan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak yang digelar Forum Parlemen Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan (IFPPD) NTT bersama Aliansi PKTA dan Harian Umum Pos Kupang, di Kantor Pos Kupang, akhir tahun 2019 lalu.
Benyamin Leu (kiri) dari Save The Children dan Aliansi PKTA, dalam diskusi penghapusan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak yang digelar Forum Parlemen Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan (IFPPD) NTT bersama Aliansi PKTA dan Harian Umum Pos Kupang, di Kantor Pos Kupang, akhir tahun 2019 lalu. (poskupangwiki.com/novemy leo)

Benni mengungkapkannya dalam diskusi penghapusan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak yang digelar Forum Parlemen Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan (IFPPD) NTT bersama Aliansi PKTA dan Harian Umum Pos Kupang, di Kantor Pos Kupang, akhir tahun 2019 lalu.

Menurut Benni, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di NTT itu mesti bisa dicari penyebab dan jalan keluaranya sehingga jumlahnya bisa ditekan setiap saat.

Irene Koernia Alifajar dari WFI menilai kasus  kekerasan terhadap perempuan dan anak di NTT bisa masuk dalam situasi darurat kejahatan seksual.

Menurutnya, data kekeasan seksual tahun 2018 dari Rumah Perempuan terdapat 8 kasus, dan tahun 2019 dari WFI ada 30 kasus kekerasan seksual.

"Artinya ini jadi situasi darurat kejahatan seksual. Namun dari kasus yang ada, anak anak masih memiliki keterbatasan akses layanan terbaik, cotoh dalam ketersediaan psikolog untuk mendampingi anak korban anak," ungkap Iren dari WFI.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Penulis: Novemyleo
Editor: Dinar Fitra Maghiszha
Sumber: Pos Kupang
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved