Media Sosial (Medsos) Ternyata Bisa Menjajah Kehidupan Kita, Ini Tanda-Tandanya

Ternyata Media Sosial alias Medsos Bisa Menjajah Kehidupan Kita, Seperti Apa Bentuk Penjajahannya?

POSKUPANGWIKI.COM, KUPANG -  Ternyata Media Sosial alias Medsos Bisa Menjajah Kehidupan Kita, Bagaimana Tanda-Tandanya?

Saat ini mulai dari anak balita hingga orang tua memiliki smartphone. Selain menelepon, smartphone juga digunakan untuk bermain game hingga media sosial (medsos).

Tapi tak banyak orang yang tahu dan paham bagaimana cara bijak bermain di medsos. Saking 'ramahnya' dengan smartphone, tak sedikit orang yang hidupnya menjadi tergantung dengan smartphone dimaksud.

Kita lihat bahwa banyak sekali masyarakat Indonesia baik orang biasa hingga artis atau pejabat yang tersandung kasus dan masuk penjara gara-gara tak bijak bermain medsos.

Cerita Masyarakat tentang Arwah Serdadu di Cagar Budaya Situs Tugu Jepang di Kupang NTT

Inilah Tujuan Serdadu Jepang Sembah Patung Shinto yang Ada di Tugu Jepang, Kota Kupang NTT

Situs Tugu Jepang di Kupang NTT Sering Terkunci, Jupen Minta Pemerintah Lakukan Ini untuk Wisatawan

Inilah yang dikatakan Pendeta Emmy Sahertian yang mengajak masyarakat untuk bisa bijaksana bermain medsos.

"Bagaimana kita bisa menyikapi medsos dalam persoalan kebangsaan dan toleransi. Bagi saya sebetulnya itu bukan nilai yang hanya ketika kita melihat tentang isu kebangsaan, tapi semua isu yang ada kaitannya dengan kehidupan sehari hari itu kalau dilihat dari kacamata kebangsaan dan toleransi maka dia akan mencoba untuk memulihkan isu-isu SARA yang ingin merebut ruang pubik dan kemudian memecah belah kita sekalian," jelas Pendeta Emmy Sahertian.

Suasana diskusi saat Lokakarya Aktor dan Gagasan untuk Narasi ke-Indonesiaan dari NTT, Jumat (24/1/2020) siang, di Celebes Resto Kupang.
Suasana diskusi saat Lokakarya Aktor dan Gagasan untuk Narasi ke-Indonesiaan dari NTT, Jumat (24/1/2020) siang, di Celebes Resto Kupang. (poskupangwiki.com/novemy leo)

Karena itu, baik secara individu maupun secara kelompok, hal itu juga harus menjadi doktrin kita saat bermain medsos agar tidak terprovokasi dan masuk bui. Sebab, kata Pewndeta Emmy Sahertian, baik individu maupun kelompok, ketika ada isu SARA lalu diolah dengan kacamata emosional maka pasti akan menimbulkan konflik berbasis SARA.

"Akhirnya orang menjadi lebih primodialisme, orang menjadi Sektarianisme, orang mulai menjadi saling bermusuhan lalu kemudian ujaran kebencian itu muncul dari situ," kata Pendeta Emmy Sahertian.

Tapi kalau dihati dan di cara berpikir setiap orang melihatnya sebagai sesama bangsa Indoensia dalam konteks bahwa keberagaman itu kita harus menghargai maka itu menjadi pomad dari cara kita melihat semua postingan medsos.

Lalu ketika bereaksi terhadap apa yang disebut isu SARA yang menyesatkan, yang memprovokasi kita untuk lebih memperlebar konflik, ketimbang membangun perdamaian, kita lebih teliti dalam menanggapinya.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Penulis: Novemyleo
Editor: Dinar Fitra Maghiszha
Sumber: Pos Kupang
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved