Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim, Keputusan Bersama Ketua MARI dan Ketua Komisi Yudisial RI

Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim Keputusan Bersama Ketua MARI dan Ketua Komisi Yudisial RI

Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim, Keputusan Bersama Ketua MARI dan Ketua Komisi Yudisial RI
Tribunnews
Ilustrasi hakim 

POSKUPANGWIKI.COM - Setiap profesi memiliki kode etik yang mesti dijalankan dalam tugas sehari-hari. Begitupun kode etik hakim. 

Dilansir POSKUPANGWIKI.COM dari website Pengadilan Negeri Atambua kelas IB, Kode etik dan pedoman perilaku hakim diatur dalam keputusan bersama Ketua Mahkamah Agung RI dan Ketua Komisi Yudisial RI Nomor 047/KMA/SKB/IV/2009 dan Nomor 02/SKB/P.KY/IV/2009, tentang Kode etik dan pedoman perilaku hakim.

Pada tahun 2006, Mahkamah Agung mengeluarkan Pedoman Perilaku Hakim yang berlaku untuk hakim di seluruh pengadilan di Indonesia melalui Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor : KMA/104A/SK/XII/2006 tanggal 22 Desember 2006 dan Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor : 215/KMA/SK/XII/2007 tanggal 19 Desember 2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pedoman Perilaku Hakim.

Pedoman Perilaku Hakim ini merupakan prinsip-prinsip dasar bagi para Hakim termasuk Hakim ad hoc pada semua lingkungan badan peradilan dan semua tingkatan peradilan.

Prinsip-prinsip dasar Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim diimplementasikan dalam 10 (sepuluh) aturan perilaku sebagai berikut :

Berperilaku Adil :

Pada hakekatnya bermakna menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan yang menjadi haknya, yang didasarkan pada suatu prinsip bahwa semua orang sama kedudukannya di depan hukum. Dengan demikian, tuntutan yang paling mendasar dari keadilan adalah memberikan perlakuan dan memberi kesempatan yang sama (equality and fairness) terhadap setiap orang. Oleh karenanya, seseorang yang melaksanakan tugas atau profesi di bidang peradilan yang memikul tanggung jawab menegakkan hukum yang adil dan benar harus selalu berlaku adil dengan tidak membeda-bedakan orang.

Berperilaku Jujur :

Pada hakekatnya bermakna dapat dan berani menyatakan bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Kejujuran mendorong terbentuknya pribadi yang kuat dan membangkitkan kesadaran akan hakekat yang hak dan yang batil. Dengan demikian, akan terwujud sikap pribadi yang tidak berpihak terhadap setiap orang baik dalam persidangan maupun diluar persidangan.

Berperilaku Arif dan Bijaksana : 

Halaman
123
Ikuti kami di
Penulis: Novemyleo
Editor: Dinar Fitra Maghiszha
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved