Fenomena 'Buru-Buru Kawin Daripada Sekolah' di Desa Niukbaun, Provinsi NTT

Di Desa Niukbaun, Kabupaten Kupang, Provinsi NTT Orang Buru-Buru Kawin daripada Sekolah, Ini Akibatnya.

POSKUPANGWIKI.COM, KUPANG - Terdapat fenomena 'Buru-Buru Kawin daripada Sekolah' di Desa Niukbaun, Kabupaten Kupang, Provinsi NTT.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Desa Niukban, Samuel Otoemusu, SH dalam workshp penyamaan persepsi SDGs 1,5,8 di Hotel Swiisbell Kupang.

Dalam workshop itu, Samuel Otemusu mengaku belum tahu tentang SDgs 1, 5, 8 namun setelah mengikuti pertemuan ini barulah dia paham apa yang dimaksud dengan SDGs 1,5,8.

"Jujur saya baru tahu 1, 5, 8 hari ini melalui ibu dan saya kira bahwa SDGs 1,5, 8 itu merupakan keinginan kami, pemerintah desa untuk bagaimana mensejahterakan masyarakat kami, SDGs 1 keluar dari kemiskinan, SDGs 5  kesetaraan gender dan SDGs 8 peningkatan ekonomi," kata Samuel Otemusu.

Melihat kondisi di desanya, Samuel Otemusu menilai salah satu faktor yang menimbulkan terjadinya kemiskinan di Desa Niukbaun adalah warga yang buru-buru kawin, atau keinginan untuk cepat-cepat kawin yang dilakukan oleh pemuda/i di desa itu tanpa mempersiapkan ekonomi yang baik.

"Walaupun di depan ibu bapak pendeta sudah omong (bicara) bahwa umur-umur ini orang masih kuliah. Orang lain berlomba-lomba kuliah, kamu berlomba-lomba untuk menikah, tapi emang itu hak asasi orang," kata Samuel Otemusu.

Disablitas juga hadir dalam workshop tentang penyamaan persepsi SDGs 1,5 dan 8 dengan pelibatan pemerintah provinsi dan kabupaten di NTT, Selasa (25/2/2020) di Swiss Bell Kupang.
Disablitas juga hadir dalam workshop tentang penyamaan persepsi SDGs 1,5 dan 8 dengan pelibatan pemerintah provinsi dan kabupaten di NTT, Selasa (25/2/2020) di Swiss Bell Kupang. (poskupangwiki.com/novemy leo)

Samuel Otemusu menjelaskannya, setelah menikah lalu mereka tetap tinggal dengan orangtua karena belum  memiliki rumah tinggal sendiri. Dan biasanya setelah satu atau dua tahun atau kurang dari itu, timbul hal di dalam rumah tangga.

"Lalu berusaha keluar dan buat rumah 3 x 4, lantai tanah atap daun, dinding bebak dan tinggalah dia dengan istrinya dan anak-anak dan disitu timbulah keluarga miskin yang baru," kata Samuel Otemudu.

Oleh karena itu saya pikir bagaimana untuk cari jalan agar bisa mengurangi angka kemiskinan di desa, ini yang sulit dilakukan.

Bahkan kata Samuel Otemusu, jika biasanya musim kawin (nikah) itu hanya berlangsung bulan Juni hingga Oktober, sekarang dari bulan Januari orang sudah mulai menikah bahkan desember mau natal pun orang mneikah.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Penulis: Novemyleo
Editor: Dinar Fitra Maghiszha
Sumber: Pos Kupang
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved