Taman Wisata Perairan Kapoposang di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia

Taman Wisata Perairan Kapoposang berada di wilayah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) di Provinsi Sulawesi Selatan.

tribun
Taman Wisata Kapoposang yang berada di wilayah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) di Provinsi Sulawesi Selatan ini merupakan salah satu dari delapan kawasan yang dikelola oleh BKKPN Kupang. 

Luas Kawasan : 50,000.00

Kategori : IUCN

Garis Lintang : 040 37’ 00’’ LS – 040 52’ 00’’ LS

Garis Bujur : 1180 54’ 00 BT – 1190 10’ 00’’ BT

Efektivitas Pengelolaan : Merah

Kondisi Umum

Kepulauan Kapoposang merupakan bagian dari Kepulauan Spermonde dan secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) Provinsi Sulawesi Selatan. SK Menteri Kehutanan No. 588/Kpts-VI/1996 tanggal 12 September 1996 menetapkan Kepulauan Kapoposang sebagai Taman Wisata Alam Laut dengan luasan sebesar 50. 000 hektar dan memiliki panjang batas 103 km.

Saat ini Pengelolaan Kepulauan Kapoposang dan perairan sekitarnya telah diserahkan kepada Departemen Kelautan dan Perikanan sesuai dengan berita acara serah terima no: BA.01/menhut-IV/2009 dan No. BA. 108/MEN.KP/III/2009 pada tanggal 4 maret 2009 dengan nama Taman Wisata Perairan Kepulauan Kapoposang dan Laut di sekitarnya (TWP Kepulauan Kapoposang).

TWP Kapoposang ditetapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan melalui Kep.66/Men/2009 tentang penetapan kawasan konservasi perairan nasional Kepulauan Kapoposang dan laut disekitarnya di Provinsi Sulawesi Selatan, pada tanggal 3 September 2009.

Kawasan Pelestarian Alam dengan fungsi Taman Wisata Perairan Kepulauan Kapoposang dan Laut di sekitarnya yang diserahterimakan dari Departemen Kehutanan ke Departemen Kelautan terdiri dari 6 pulau, yaitu pulau Kapoposang dengan luas ± 42 Ha, Pulau Papandangan dengan luas ± 13 Ha, Pulau Kondongbali dengan luas ± 15 Ha, Tambakhulu ± 5 Ha, Pamanggangang ± 5 Ha dan Suranti ± 4 Ha. Kepulauan Kapoposang masuk dalam wilayah administratif kecamatan Liukang Tuppabiring.

Kecamatan Liukang Tuppabiring meliputi 1 kelurahan, 13 desa, 2 lingkungan,24 dusun, 3 RW dan 91 RT. Kawasan ini memiliki luas 50.000 Ha dan telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan no KEP. 66/MEN/2009 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan Kapoposang dan Laut di Sekitarnya di Provinsi Sulawesi Selatan.

Letak Geografis

Posisi geografis kawasan ini berada di 1180 54’ 00" BT – 1190 10’ 00’’ BT dan 040 37’ 00’’ LS – 040 52’ 00’’ LS. Taman Wisata Perairan (TWP) Kapoposang terletak di Kecamatan Liukang Tupabbiring pada 2 desa berbeda, yakni Desa Mattiro Ujung di sebelah barat, yang meliputi Pulau Pandangan dan Pulau Kapoposang; dan Desa Mattiro Matae di sebelah timur, yang meliputi Pulau Gondongbali, Pulau Tambakulu, Pulau Suranti, dan Pulau Pamanggangan.

Luas Wilayah Kecamatan Liukang Tupabbiring mencakup 140 Km2, sebagian besar terdiri dari perairan dan 43 buah pulau. Ibukota kecamatan berna Mattiro Sompe terletak di pulau Balang Lompo. Jarak Mattiro Sompe dari Pangkajene mencapai 22 Km. Batas-Batas wilayah administrasinya adalah sebagai berikut: 

Aksesibilitas

Akses menuju kawasan TWP Pulau Kapoposang saat ini dapat menggunakan beberapa jalur pelayaran yakni dari Ujung Pandang melalui Pelabuhan Paotere dan POPSA; dari Maros melalui pelabuhan Kalibone; dan dari Pangkep melalui pelabuhan Semen Tonasa.

Pelayaran menggunakan perahu bermotor milik nelayan yang disewa, dengan tingkat keamanan pelayaran yang relatif baik. Dengan perahu bermotor yang lazim dipakai nelayan, waktu tempuh Ujung Pandang-Kapoposang sekitar 6 jam, sedangkan waktu tempuh dari Maros dan Pangkep masing-masing 7 dan 8 jam.

Wisatawan umumnya ke TWP Pulau Kapoposang melalui pelabuhan di Ujung Pandang. Selain menggunakan perahu bermotor, penggunaan speed-boat juga sudah dirintis oleh pengusaha yang mengkordinir kunjungan ke Pulau Kapoposang, waktu tempuhnya bisa dua-sampai tiga jam.

Terdapat 3 pintu (pelabuhan) untuk masuk ke kawasan TWP kepulauan Kapoposang, yaitu : Pelabuhan Pulau Kondongbali untuk kunjungan penduduk dari luar kawasan, Pelabuhan Pulau Papandangan untuk transportasi internal (wisata dan biasa), dan Pelabuhan Pulau Kapoposang untuk kunjungan wisata dan internal kawasan TWP antara lain untuk pengambilan air, perikanan, dan lain-lain.

Iklim

Iklim dalam kawasan TWP Kepulauan Kapoposang ditandai oleh dua musim dengan keadaan cuaca yang secara significant berbeda yaitu musim timur (musim Hujan) pada bulan November-Mei dan musim Barat (Kemarau) pada bulan Juni – November.

Musim Timur ditandai dengan keadaan laut yang berombak tinggi, curah hujan yang intensif dan angin yang bertiup kencang, sedangkan pada musim Barat laut relative tenang dan curah hujan rendah. Hari hujan 159 hari/tahun. Rata-rata temperature 270C dan berkisar antara 180C-370C.

Kondisi Perairan

Kondisi pasang tertinggi di perairan kawasan TWP Kepulauan Kapoposang umumnya dan juga dipulau Kapoposang khususnya terjadi pada pukul 17.00 WIB dan surut maksimal pada pukul 11.00-12.00 WIB. 

Berdasarkan informasi dilapangan pada umumnya air tanah di Kapoposang dan sekitarnya relatif dangkal. Air tanah di bagian barat pantai umumnya payau sedangkan dibagian tengah dan selatan tawar tetapi semakin ke timur ke arah pantai meningkat menjadi agak payau.

Kualitas air tanah di kepulauan Kapoposang, dibeberapa lokasi masih memenuhi persyaratan untuk air minum dan tidak terpengaruh atas instrusi air laut.

Kondisi Ekosistem Perairan

Flora darat dapat ditemukan dalam jumlah dan variasi cukup banyak di pulau kapoposang, tambak hulu, Pamanggangan dan Suranti.

Sedangkan di Pulau Kondongbali dan Papandangang flora darat relative terbatas, karena penggunaan lahan sudah didominasi oleh pemukiman.

Potensi flora di daratan kepulauan Kapoposang meliputi tiga jenis pohon utama, yakni Kelapa, cemara laut dan sukun.

Selain itu pula terdapat sejumlah perdu dengan jenis yang agak banyak adalah santigi ditambah dengan pisang yang telah dibudidayakan secara intensif.

Flora yang potensial adalah rumput laut, hanya berdasarkan hasil pengamatan lapangan penutupan rumput laut di kepulauan Kapoposang sudah berkurang bahkan bias dikatakan sdh tdk ada.

Tumbuhan padang lamun terlihat sangat mendominasi areal sekitar pantai, dengan demikian, areal sekitar pantai yang letaknya berbatasan dengan terumbu karang, penutupannya didominasi oleh padang lamun. 

Secara umum kondisi terumbu karang banyak mengalami kerusakan, baik karena perbuatan manusia berupa penggunaan bahan peledak dan racun pembius dalam penangkapan ikan.

Terumbu karang yang sudah rusak banyak ditemukan di perairan pulau kondongbali dan Papandangan. Daerah Tenggara Kepulauan Kapoposang berpasir putih yang relative luas yang merupakan daerah wisata.

Daerah tersebut ditumbuhi dengan rataan terumbu tengah yang lebar dengan dasar pasir yang hamper semuanya ditutupi lamun. Karang di daerah ini hamper semuanya mati dan ditutupi lumut, umumnya dari jenis Acropora spp.

Beberapa koloni karang yang mulai tumbuh kembali umumnya dari karang dengan bentuk pertumbuhan massif.

Kondisi Sosial Ekonomi Budaya

Distribusi dan jumlah penduduk dalam kawasan TWP Kepulauan Kapoposang tersebar pada 3 pulau yang berpenghuni yaitu pulau Kapoposang, Papandangan dan Kondongbali. Penduduk Pulau Kapoposang mencapai 522 jiwa meliputi 117 KK.

Komposisi Penduduknya terdiri dari 249 laki-laki dan 273 Perempuan. Penduduk Pulau papandangan mencapai 850 jiwa meliputi 206 KK.

Komposisi penduduknya terdiri dari 465 laki-laki dan 415 perempuan. Penduduk pulau Kondongbali sebanyak 278 KK, jumlah jiwa 1802 jiwa, (terdiri dari 843 laki-laki dan 959 perempuan).

Secara Demografis, Kepadatan penduduk di Kepulauan Kapoposang sebenarnya relative rendah di banding pulau nelayan lain di Sulawesi Selatan. Dengan luas daratan sekitar 84 hektar, dengan jumlah penduduk sekitar 3174 jiwa, berarti kepadatan penduduk di TWP Kepulauan Kapoposang sekitar 37 jiwa/ha.

Kepadatan penduduk masing-masing pulau adalah : Kapoposang 6 jiwa/ha, Papandangan 10 jiwa/ha, Kondongbali 21 jiwa/ha. Bila dibanding pulau nelayan lain di Sulawesi Selatan, kepadatan penduduk di TWP kepulauan Kapoposang jauh lebih rendah.

Ditinjau dari jumlah penduduk, penduduk Kondongbali lebih besar dari pada penduduk pulau lainnya, hal ini karena Kondongbali merupakan kota kecamatan dan telah berkembang pesat sebagai pintu masuk ke kawasan Kapoposang.

Mata Pencaharian

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan mata pencaharian utama penduduk Kepulauan Kapoposang berhubungan dengan hasil laut.

Potensi Perikanan

Fauna laut yang dominan di kepulauan kapoposang adalah berbagai jenis ikan perairan, baik sebagai ikan pangan, ikan hias maupun obyek wisata laut. Ikan pangan didominasi oleh Lutjanus decussates, Siganus Spp dan Naso spp.

Ikan yg berpotensi sebagai ikan hias dan daya Tarik wisata didominasi jenis Hemitaurichtys polylepis dan Chaetodon kleini dari suku Chaetodontidae. Jenis-jenis ikan ini masing-masing dapat ditemui pada daerah paparan terumbu karang dan drop off.

Dalam 5 tahun terakhir, terdapat kecenderungan penurunan hasil tangkapan ikan karang utama oleh nelayan pancing di kepulauan kapoposang

Tetapi untuk nelayan yang menggunakan alat tangkap bahan peledak atau racun pembius yang umumnya berasal dari luar kawasan kapoposang, jumlah tangkapannya tetap bahkan meningkat.

Pariwisata

1. Diving :

Selama ini pantai Pulau Kapoposang dijadikan tempat untuk bermain Diving oleh wisatawan. Hal ini karena keindahan terumbu Kapoposang mempunyai nilai keindahan yang cukup besar bila dibandingkan dengan pantai lainnya.

Kegiatan ini sangat menarik wisatawan untuk mengunjungi pantai Pulau Kapoposang. Ditambah lagi dengan kualitas pantai yang belum tercemar oleh kerusakan alam dan juga pasir putih yang mengelilingi sepanjang kawasan pantai.

2. Snorkeling :

Pantai Pulau Kapoposang mempunyai ekosistem terumbu karang dan jenis flora dan fauna yang keanekaragamannya cukup tinggi.

Keindahan ini sangat menarik minat wisatawan untuk melakukan kegiatan snorkeling untuk menikmati keindahan pantai Kapoposang di waktu senggang.

3. Fishing :

Pantai Pulau Kapoposang juga memiliki jenis ikan yang sangat beranekaragam. Jenis ikannya masih cukup banyak karena masih belum dirusak oleh aktivitas penangkan ikan dengan menggunakan alat-alat keras ataupun karena faktor lingkungan.

Wisatawan melakukan kegiatan Fishing pada waktu-waktu senggang sambil menikmati suasana keindahan pantai Pulau Kapoposang.

4. Budidaya Rumput Laut :

Pulau Kapoposang selain mempunyai jenis flora dan fauna yang beranekaragam, juga memiliki jenis rumput laut yang cukup bagus. Sehingga hal ini menarik wisatawan untuk datang dan belaar tentang bagaimana kegiatan budidaya rumput laut yang sudah dijadikan tradisi bagi masyarakat Pulau Kapoposang.

5. Melihat Penyu Bertelur dan Aktivitas Penangkapan Nener :

Pada lokasi pantai lain, kegiatan melihat Penyu bertelur dan aktivitas Penangkapan Nener sudah jarang kita dapati. Hal ini disebabkan oleh kondisi kerusakan pantai yang belum tertangani dengan baik.

Di pantai Pulau Kapoposang keadaan hewan seperti Penyu, Nener masih terjaga dengan baik dari kerusakan. Kondisi ini menjadikan wisatawan untuk mengunjunginya.

6. Sun Rise & Sun Set :

Dengan keindahan pantai yang masih alami, kondisi lingkungan yang masih bagus. Menarik wisatawan untuk menikmati keindahan Sun Rise dan Sun Set.

Untuk ini cukup menarik untuk dilakukan karena didukung oleh nilai keindahan pantai yang cukup bagus. (poskupangwiki.com/*)

Ikuti kami di
Penulis: Novemyleo
Sumber: Pos Kupang
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved