Ansi Rihi Dara : Masa Covid-19 Perempuan di NTT Alami Kekerasan Ganda 

Masa Covid-19 Perempuan Alami Kekerasan Ganda Dalam Rumah Tangga. Hal ini Mesti Segera Disadari dan Ditangani Sesegera Mungkin. 

Masa Covid-19 Perempuan Alami Kekerasan Ganda 

Direktris LBH APIK NTT, Ansi D Rihi Dara, SH mengatakan situasi pandemic Covid-1 bawa dampak negative terhadap perempuan. Sebelum, selama dan setelah pandemi Covid-19 situasi yang dihadapi perempuan itu berbeda namun kekerasan terus dialami perempuan.

“Pasca pandemic Covid-19, kekerasan yang dialami perempuan berlipat ganda. Malah perempuan mendapat kekerasan baru, harus berperan ganda mengatasi persoalan ekonomi, pendidikan dan kesehatan rumah tangga,” kata Ansi kepada pos kupang, Rabu (25/11/2020).

Ansi mengatakan, pandemi Covid-19 mendatangkan masalah psikologis bagi perempuan selaku istri atau ibu dan juga bagi pria sebagai suami dan anak-anak. Hal ini menimbulkan kerentanan bagi setiap anggota keluarga karena lebih banyak waktu di rumah sehingga bisa terjadi gesekan-gesakan.

Apalagi jika suami kehilangan pekerjaan dan tidak bisa membagi peran untuk membantu pekerjaan istrinya. Suami kehilangan pekerjaan berkaitan dengan hilangnya penghasilan dan hal ini memicu keretanan perempuan mengalami tambahan kekerasan baik dari keluarga maupun masyarakat.

Ansi Damaris Mangngi Rihi Dara, SH, Direktris LBH Apik NTT
Ansi Damaris Mangngi Rihi Dara, SH, Direktris LBH Apik NTT (poskupangwiki.com/novemy leo)

“Misalnya ada kewajiban membayar hutang sehingga perempuan mesti bekerja entah berjualan sayur ke pasar atau berjualan online. Dan luar biasanya semua beban itu ditanggung dengan sukarela oleh perempuan dengan tujuan untuk bisa membuat dapur rumah tetap mengepul dan agar kehidupan keluarga tetap berjalan baik,” kata Ansi.

Akhirnya perempuan harus menerima beban ganda untuk menangani isu ekonomi, kesehatan hingga pendidikan. Padahal tidak seharusnya perempuan menerima beban ganda itu.

Isu kesehatan misalnya, ketika suami atau anak dalam rumah mengalami sakit maka perempuan mesti menambah beban kerja untuk melakukan perawatan.

Perawatan ini dalam perspekti budaya selalu dilihat sebagai peran dan sebuah kewajiban dan tanggungjawab yang harus dilakukan oleh perempuan atau biasa disebut unpaid care work atau pekerjaan perawatan tak dibayar.

Hal ini tentu lebih banyak menyita waktu perempuan. Padahal mungkin waktu yang digunakan untuk merawat anggota keluarga itu bisa digunakan oleh perempuan untuk mengerjakan pekerjaan lainnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Novemyleo
Editor: Novemyleo
Sumber: Pos Kupang
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved