Noura dan Masril Sang Pejuang dari Timur Indonesia

Noura Susantry dan Masril Abdul Manan berjuang untuk menyembuhkan pasangan mereka yang adalah pasien penyintas gagal ginjal

pos kupang
Nurmiati (kedua dari kiri) pasien penyintas gagal ginjak bersama suaminya, Masril Abdu Manan (kanan) dan Ketua Komunitas Pasien Cuci Darah ndonesia Cabang NTT, Noura Susantri (kedua dari kanan) dalam acara ngobrol asyik, Minggu (30/8/2020) dengan tema Perjuangan untuk Berani Hidup Pasien Cuci Darah. Hadir juga suami Nurmiati, Masril Abdul Manan dan Ketua Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia atau KPCDI Provinsi NTT, Noura Susantri. Acara itu dipandu oleh host jurnalis Pos Kupang, Novemy Leo dan bisa diakses melalaui chanel youtobe POSKUPANG dan facebook POS-KUPANG.COM 

POS-KUPANG.COM - Noura Susantry sudah 3 tahun berjuang untuk menyembuhkan suaminya, Jacobus Pello alias Jack. Sementara Masril Abdul Manan pun terus menyemangati Nurmiati, istrinya, selama 14 tahun terakhir ini.

Keduanya adalah pahlawan dari Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang tak kenal lelah mendampingi dan memotivasi pasangannya untuk terus berjuang menjalani kehidupan sebagai pasien penyintas gagal ginjal

Noura selalu memulai harinya dengan doa pagi jam 05.00. Doanya selalu sama, "Tuhan sembuhkanlah suamiku".

Entah kenapa, Noura sangat yakin suatu saat nanti doanya akan terkabul. Sejak mengetahui ginjal suaminya tak bisa lagi berfungsi dengan baik di tahun 2017, Noura yang bekerja di salah satu klinik dokter itu bertekad melakukan apapun agar suaminya bisa sembuh.

Dari mulai mengantar jemput suaminya melakukan proses cuci darah atau Hemodialisa (HD) di Rumah Sakti Siloam Kupang setiap tiga kali seminggu, hingga mengambil alih fungsi ayah bagi ketiga anak mereka. Semua itu dijalani Noura tanpa keluhan.

Hemodialisa atau HD adalah proses membersihkan dan menyaring darah menggunakan mesin untuk sementara membersihkan tubuh dari zat yang berbahaya yang sebenarnya dilakukan oleh ginjal.

Meski harus pindah ke rumah mertuanya dan tinggal bersama kedua orangtua Jack pun, Noura melakukannya demi kebaikan suami dan anak-anak.     

Saat itu Noura masih bekerja di klinik agar bisa tetap mendapatkan penghasilan lantaran Jack tak bisa lagi bekerja dan menghasilkan uang.  Namun setahun kemudian, Noura terpaksa risign agar bisa lebih konsen merawat sang suami di rumah. Pilihan itu membawa konsekuensi, Noura tak lagi ada penghasilan bulanan.

Noura Susantri Pello-Doek, pendamping pasien penyintas gagal ginjal (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)
Noura Susantri Pello-Doek, pendamping pasien penyintas gagal ginjal (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO) (POSKUPANGWIKI.COM/ NOVEMY LEO)

"Beta (saya) pikir mesti lebih fokus mengurus kak Jack. Beta sulit bagi waktu antara urus keluarga dan bekerja apalagi kondisi kak Jacky sakit. Tak tega harus pergi kerja beberapa jam kasih tinggal kak Jacky dan anak-anak. Beta harus pilih berhenti kerja dan terima konsekuensinya," kata Noura kepada Pos Kupang beberapa waktu lalu.    

Beruntung, mertuanya adalah ayah dan ibu Jacky, Fransikus Pello dan Magdalena Ully menaruh kasih sayang yang begitu besar kepada mereka. Biaya makan minum dalam rumah juga transportasi untuk pengobatan dan perawatan Jacky ditangani mertua. 

Halaman
1234
Ikuti kami di
Penulis: Novemyleo
Editor: Novemyleo
Sumber: Pos Kupang
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved