di Belu Provinsi NTT

E-Mapper Program Every dari Child’s Birth Right ChildFund Jawab Pelayanan Akta Kelahiran 

E-Mapper Program Every dari Child’s Birth Right ChildFund Jawab Pelayanan Akta Kelahiran di Belu Provinsi NTT. di Belu Provinsi NTT

Penulis: Novemyleo
Editor: Novemyleo
pos kupang
Ngobrol Asyik Pos Kupang tentang Hak Anak Atas Identitas bersama Kepala Bidang Pelayanan Pencatatan Sipil Disdukcapil Kabupaten Belu Maksimus Mau Meta (kedua dari kiri), Kepala Bidang Pendudukan Pencatatan Sipil Dinas Kesehatan Provinsi NTT Hendrik Manesi (kedua dari kanan), dan Renny Rebeka Haning (tengah) dari ChildFund Internasional Indonesia yang dipandu oleh Jurnalis Pos Kupang Novemy Leo (kiri), dan panitia, Ana Djukana, SH (kanan), Rabu (2/12/2020) 

POSKUPANGWIKI.COM - E-Mapper Program Every dari Child’s Birth Right ChildFund Jawab Pelayanan Akta Kelahiran di Belu Provinsi NTT.

Program Every Child’s Birth Right dari ChildFund Internasioal di Indonesia yang diterapkan di Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak tahun 2018 hingga 2019 menuai keberhasilan. Dalam pelaksanaan program yang mendorong pemenuhan hak anak atas identitas yakni akta kelahiran, ChildFund bekerjasama dengan Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak (LPPA), Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Belu serta pihak terkait.

Berbagai strategi yang dilakukan guna pencapaian kepemilikan akta kelahiran itu terungkap dalam Ngobrol Asyik Pos Kupang dengan tema Hak Anak Atas Identitas, Selasa (2/12/2020). Hadir saat itu,  ChildFund Internasional Indonesia, Reni Rebeca Haning, Kabid Pelayanan Pencatatan Sipil Dinas Dukcapil Belu. Maksimus Mau Meta, SH dan Kabid Pelayanan Pencatatan Sipil Dinkes NTT, Ir. Hendrik Manesi.

Ngobrol Asyik Pos Kupang tentang Hak Anak Atas Identitas bersama Kepala Bidang Pelayanan Pencatatan Sipil Disdukcapil Kabupaten Belu Maksimus Mau Meta (kedua dari kiri), Kepala Bidang Pendudukan Pencatatan Sipil Dinas Kesehatan Provinsi NTT Hendrik Manesi (kedua dari kanan), dan Renny Rebeka Haning (tengah) dari ChildFund Internasional Indonesia yang dipandu oleh Jurnalis Pos Kupang Novemy Leo (kiri), dan panitia, Ana Djukana, SH (kanan), Rabu (2/12/2020)
Ngobrol Asyik Pos Kupang tentang Hak Anak Atas Identitas bersama Kepala Bidang Pelayanan Pencatatan Sipil Disdukcapil Kabupaten Belu Maksimus Mau Meta (kedua dari kiri), Kepala Bidang Pendudukan Pencatatan Sipil Dinas Kesehatan Provinsi NTT Hendrik Manesi (kedua dari kanan), dan Renny Rebeka Haning (tengah) dari ChildFund Internasional Indonesia yang dipandu oleh Jurnalis Pos Kupang Novemy Leo (kiri), dan panitia, Ana Djukana, SH (kanan), Rabu (2/12/2020) (pos kupang)

ChildFund telah hadir di Indonesia sejak tahun 1958 dan berkiprah di NTT sejak tahun 1986. Berbagai program jangka panjang dilakukan yakni program responsive dan pengasuhan positif anak usia 0-5 tahun, Program kecakapan hidup anak usia 6-14 tahun dan anak usia 15-24 tahun dalam program kecakapan hidup serta kesiapan kerja orang muda.

“Yang paling penting, kami bekerja untuk membangun, memperkuat sistem perlindungan anak. Salah satu program yang cross cutting yakni untuk anak usai 0-24 tahun yakni perlindungan anak terpadu berbasis masyarakat atau PATBM. Dan di Provinsi NTT, Childfund ada di Kabupaten Belu, Malaka, TTU, TTS, Flores ada di 4 pulau besar di NTT,” jelas Reni.

Khusus di Kabupaten Belu, focus Childfund untuk pemenuhan dan perlindungan anak guna memastikan setiap anak dapat hidup sehat, terlindungi dan memiliki pendidikan dan kecakapan hidup. Dan tahap awal, lima desa yakni Desa Dualaos, Naekasa, Silawan, Maudemu dan Naedemu menjadi fokus.

ChildFund Internasional Indonesia, Reni Rebeca Haning, dalam Ngobrol Asyik Pos Kupang dengan tema Hak Anak Atas Identitas, Rabu (3/12/2020).
ChildFund Internasional Indonesia, Reni Rebeca Haning, dalam Ngobrol Asyik Pos Kupang dengan tema Hak Anak Atas Identitas, Rabu (3/12/2020). (pos kupang)

“Dari visi Childfund itulah kami tahu bahwa perkembangan anak tidak mungkin tercapai secara maksimal jika salah satu hak anak pertama yakni akta kelahiran tak terpenuhi. Jika hak anak atas akta kelahiraannya tak terpenuhi maka factor resiko seorang anak tanpa identitas itu banyak sekali,” kata Reny.

Belu menjadi pilihan karena berada di daerah perbatasan antara Negara Timor Leste dan Indonesia. Anak-anak disana pun banyak yang belum memiliki akta kelahiran sebagai identitas resmi sehingga menjadi sangat beresiko mendapatkan kekerasan dan ekspoitasi.

“Belu adalah daerah border dimana anak-anak keluar masuk melalui jalan tikus, biasanya kami baca di koran. Karena itu kami ingin mengurangi faktor resiko anak dengan program kepemilikan akta kelahiran,” kata Reni.

Selama ini kesadaraan masyarakat Belu sangat rendah untuk mengurus akta kelahiran. Alannya bermacam-macam antara lain karena jarak tempuh serta kondisi geografis membuat masyarakat enggan ke ibukota kabupaten. Biaya transportasi yang besar pun menjadi alasan.

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved