Wisata di NTT

Gereja Lengko Ajang, Gereja Tua di Manggarai

Gereja Lengko Ajang adalah salah satu Gereja Tua di Desa Wangkung, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur.

Editor: Novemyleo
Pokja Dokumentasi dan Publikasi Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali
Situs Gereja Paroki Santa Theresia Lengko Ajang terletak di Desa Wangkung, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. 

POSKUPANGWIKI.COM - Gereja Lengko Ajang adalah salah satu Gereja Tua di Desa Wangkung, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur.

Gereja Lengko Ajang ini dibangun tahun 1927 - 1931 oleh Misionaris asal Jemran, alm. P Wihelmus Jansen, SVD.

Gereja Lengko Ajang adalah salah satu gereja tertua di Flores.

Bangunan berbentuk neo gothic traditional karena bentuk bagunannya bundar dan beratap rucing menyerupai bangunan gereja di Eropa.

Gereja ini bisa ditempuh dari Kota Ruteng sekitar 40 km atau sekitar 2 jam.

Sedangkan waktu tempuh  dari Borong sejauh 70 km atau sekitar 3 jam.

Dilansir poskupangwiki.com dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, Gereja Lengko Ajang termasuk dalam Balai Pelestaruan Cagar Budaya Bali, Situs ini terletak pada titik koordinat 51 L 0244553 UTM 9058867, dengan ketinggian 795 mdpl.

Paroki Santa Theresia Lengko Ajang adalah nama persekutuan Gereja pertama yang berada di belahan Manggarai Timur Utara keuskupan Ruteng.

Menguak sejarah paroki ini bukanlah suaru pekerjaan mudah. Selain usianya yang sudah tua, di secretariat tidak ditemukan arsip literer sebagai akses akurat untuk data sejarahnya. Paroki Santa Theresia Lengko Ajang lahir sebagai anak ketiga dari Rahim Keuskupan Ruteng (sesudah Katedral dan rekas) pada 1927.

Situs Gereja Paroki Santa Theresia Lengko Ajang terletak di Desa Wangkung, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia.
Situs Gereja Paroki Santa Theresia Lengko Ajang terletak di Desa Wangkung, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. (Pokja Dokumentasi dan Publikasi Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali)

Sebagai paroki pertama di belahan timur keuskupan ini tentu memiliki wilayah yang amat luas. Terbentang antara sebelah utara paroki Pota, sebelah barat Wae Togong, sebelah selatan paroki Colol dan Lawir dan sebelah timur paroki Mombok.

Dalam bentang wilayah yang luas ini, benih kerajaan Allah diupayakan untuk terus bertumbuh kembang oleh hamba-hamba Allah yang dengan setia bekerja sebagai pastor untuk mengembalakan domba-domba di wilayah ini dalam kerja sama dengan berbagai pihak.

Dan, keadaan topografi yang berat tentu membutuhkan banyak energy dan waktu sehingga melahirkan volume pelayanan pastoral yang tidak ringan.

Para pastor yang bekerja pada periode awal datang dari negeri Eropa. Dari banyak segi tentu ada perbedaan yang cukup berarti antara pastor dan penduduk asli.

Penduduk semuanya buta huruf, ada kepercayaan animism dan dinamisme, secara ekonomi miskin, hidup dalam strata sosial (rang), keberadaan Islam yang sudah mulai berkembang di beberapa tempat di Manggarai Timur yang dibawa oleh pedagang ikan dari Pota-Bima (Reo, Pota, Pembe, Lengko Welu, Toe, Nanga Ntaram dan Kalo).

Dalam menjalankan tugasnya, P. Yanssen tinggal di Lengko Ajang. Beliau selalu mengembara dari daerah satu ke daerah lain di wilayah ini. Sementara, P. Glaneman, Svd tetap memantaunya dari Ruteng, untuk melihat sejauh mana perkembangan umat di wilayah pusat misi Manggarai Timur ini.

P. Glaneman pernah tinggal selama kurang lebih dua bulan di Lengko Ajang dan sempat menata kintal (rawa-rawa) yang menjadi cikal bakal dibangunnya gedung Gereja dan pastoran sekarang.

Namun peristiwa naas menimpanya. Beliau disengat binatang berbisa  (Pesi Wulu) di halaman pastoran pada malam hari. Pengobatan tradisional tidak bisa menolongnya, selanjutnya Beliau dibawa ke Ruteng (tempat tugasnya) dan terus ke Belanda.

Di tanah asalnya inilah ia menghembuskan nafas terakhirnya. P. Yanssen tetap setia melakukan patrol dan melayani umat di wilayah timur ini sambil memusatkan perhatiannya di Lengko Ajang.

Perkembangan selanjutnya Gereja Paroki Santa Theresia Lengko Ajang dipimpin oleh P. Petrus de Graff, Svd (Belanda, 1960-1973), kemudian digantikan oleh P. Aloisius, Svd (Maumere, 1973-1984), dan P Bernadus Jebabun, Svd (Manggarai, 1984-1998). (*)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved