Cerita Rakyat NTT

Cerita Rakyat NTT : Kera dan Buaya, Si Kera Cerdik Menipu si Buaya Jahat

Cerita Rakyat NTT Kera dan Buaya, Si Kera Cerdik Mrnipu si Buaya Jahat, Cerita dari Kabupaten Ende

Editor: Novemyleo
zoom-inlihat foto Cerita Rakyat NTT : Kera dan Buaya, Si Kera Cerdik Menipu si Buaya Jahat
youtube
ilustrasi monyet dan buaya

POSKUPANGWIKI.COM - Cerita Rakyat NTT Kera dan Buaya, Si Kera Cerdik Mrnipu si Buaya Jahat, Cerita dari Kabupaten Ende

Pada hari pertama dalam minggu ketiga bulan Juli, seekor kera jantan berjalan-jalan mencari kepiting dan ikan-ikan kecil di tepi pantai.

Sementara ia berjlaan hilir mudik, didengar suara orang yang memanggil katanya: "Halo teman kera, buat apa engkau berjalan hilir mudik saja seorang diri sejak tadi, seolah-olah seorang prajurid yang sedang mengintai musuh. Apakah engkau tidak takut berda di daerah yang sepi hanya mendengar deru ombak pantai?"

Mendengar perkataan itu kera menjawab katanya, "Supaya engkau tahu bahwa di dalam hidup ini saya tidak takut kepada saiapapun."

Mendengar kata-kata kera itu maka timbullah niat buaya itu untuk mengajak kera supaya datang bersenang-senang bersamanya di rumah beberapa waktu lamanya.

Lalu kata buaya: "Halo teman kera, saya sangat senang bertemu dengan seorang teman yang terkenal keberaniannya seperti teman kera. Bagaimana keadaanmu sekarang?"

Jawab kera : "Sekarang saya baik-baik."

Mendengar jawaban kera itu timbullah kegembiraan hati buaya karena ia tahu bahwa ajakannya nanti pasti akan dikabulkan. Selanjutnya ia mengajak kera.

Katanya: "Teman saya minta dengan sangat, kalau teman tidak berkeberatan untuk bersenang-senang bersama saya sekeluarga di rumah saya, selama beberapa waktu. Karena saya sangat membutuhkan hiburan sementara istri saya sekarang berada dalam keadaan sakit parah."

Mendegar rayuan dan ajakan buaya  si kera menjadi sedih lebih-lebih mendengar bahwa istri temannya buaya itu sakit berat.

Maka terdorong oleh keinginn untuk menjenguk orang sakit itu kera pun cepat-cepat memberikan keputusan untuk tinggal beberapa waktu lamanya di rumah temannya buaya itu.

Katanya: "Baiklah teman kalau begitu kita jangan memperlambat waktu lagi. Baiknya kita segera berangkat. Tetapi ingat , saya tidak tahu berenang jadi bagaimana caranya?"

Jawab buaya itu : "Gampang asalkan teman mau menghibur istri saya dan bersedia untuk berlayar bersamaku ke rumah nanti teman dapat duduk saja diatas punggugku dan aku akan menghantar engkau bersama ke rumah."

Setelah semuanya beres, kera langsung melompoat ke punggung buaya dan duduk serta siap untuk berlajar ke rumah buaya itu.

Setiba di depan rumah, buaya memerintakan kera supaya segera melompat ke balai-balai rumah. kemudian menyusul buaya menaiki balai-balai sekaligus bersama memasuki rumah.

Sedangkan kera langsung memberikan salam damai dan perjumpaan dengan istri buaya yang sedang terbaring di tempat tidur karena sakit.

Sementara bersalaman merek  dipersilhakn duduk oleh pembantu rumah.

Sambil duduk kera berpikir terus dengan jalan apa mereka dapat memberikan pertolongan untuk menyembuhkan orang sakit itu..

Untuk itu ia terpaksa bertanya kepada temannya buaya katanya : "Sudah berapa lama istri teman mengidap penyakit ini? Apakah tidak dipanggilkan dokter? Kalau tidak sebaiknya kita hantar saja ke rumah sakti terdekat."

Jawab buaya : "Belum pernah kami pikirkan untuk dibawa ke dokter hanya pada waktu akhir-akhir ini ia selalu menanngis dan meminta daging dari hati kera. Katanya kelau ia makan hati kera ia segera sembuh. Jadi bagaimana dan dimana kita mendapatkannya?"

Mendengar kata-kata buaya itu, mula-mula kera merasa sedih sudah dan gelisah lagi takut. Karena ia telah berada dalam rumah dan mulut buaya itu, ditambah pula ia tidak tahu berenang.

Akan tetapi ia tidka hilang akal, malah ia mulai menujukkan muka gembira bercampur sedih yang emngadnung belas kasihan terhadap pernderitaan yang dirasakan oleh temannya.

Kera itu mendukung program buaya yang sedang berusaha mencari hati kera untuk menyembuhkan istrinya yang sakit itu.

Selanjutnya kera berkata : "Betul teman hati Kera itu mengandung obat yang paling mujarab untuk menyembuhan segala penyakit luar dalam. Justru karena itu kita harus berusaha keras agar hati hati kera itu segera kita peroleh dan secepatnya kita berikan kepada istri teman agar ia lekas sembuh."

"Sebenarnya kita sudah tidak perlu mencarinya lagi andaikan sebelum kita datang kesini teman memberitahukan kepada saya maka saya bisa memberikan hati saya untuk mengobati istri teman yang sakit itu," jelas kera.

"Tetapi sekarang sudah tidak bisa lagi karena sebelum kita berlayar kesini tadi, hati saya sudah diangkat dan digantungkan diatas sebatang pohon di tepi pantai. Kalau saya berjalan jauh atau melompat dari pohon ke pohon hati saya terasa hilang oleh karena itu saya harus mengangkat dan menggantungkannya diatas pohon," jelas kera.

"Tetapi saya kira itu bisa diatasi belum terlalu terlambat. Asalkan teman bersedia untuk kita mengambil kembali hati saya yang masih ada di darat. Kita tidak usah mencari hati kera yang lain,  ini karena salah teman sendiri yang tidak jujur fan tidak berterus terang memberitahukan  sesuatu yang membutuhkan pertolongan segera," tambah kera.

"Andai kata teman memberitahukan hal itu pasti istri teman sudah dapat memakannya. Tetapi sekarang kalau memang teman tidak berkeberatan untuk mengambil hati saya di darat itu mari segera kita berangkat sebelum terlambat," tambah kera.

Mendengar uraian yang penuh belas kasihan dari temannya kera itu, buaya merasa senang dan cepat-cepat mau berangkat sebab ia tahu bahwa ia telah mendapat keuntungan besar yaitu hati dari seekor kera yang sedang dicari-carinya selama ini.

Dengan tidka berpikir lagi, ia menyuruh kera itu duduk diataa punggungnya dan bersedia melanjutkan perjalanan kembali ke darat untuk mengambil hati kera sebagai obat untuk istrinya yang sakit.

Setiba di dekat patnai, kera langsung melompat ke darat sambil mengucapkan syukur dan terimaka kasih kepada buaya atas segala kebaikannya selama ia berada bersamanya di rumah buaya dan kini ia sudah luput pada bahaya maut.

Katanya: " Terima Kasih, saya sudah kau layani degan baik dan sekarang aku telah selamat serta telah luput dari ancamanmu dan karena kebodohanmu itulah saya lolos. Mana mungkin hati kita dipisahkan dari tubuh kita dan kita bisa hidup. Itu mustahil, oleh karena itu saya harap engkau pulang dan sampaikan salam hangatku kepada istrimu. Bahwa harapannya hampa belaka. Untuk istrimu sembuh secepatnya ia memakan hatimu sendiri, selamat jalan sampai bertemu kembali." (*)

Dilansir poskupangwiki.com dari buku Himpunan Cerita Rakyat NTT Seri I yang dibuat oleh Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Arkelogi Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Provinsi NTT, Tahun 2004.

  

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved