Cerita Rakyat NTT

Cerita Rakyat NTT : Sumur Limal Omi Antara Orang Buton dan Orang Mota

Cerita Rakyat NTT, Sumur Limal Omi, asal usul SD GMIT Limarahing Antara Orang Buton dan Orang Mota.

Editor: Novemyleo
zoom-inlihat foto Cerita Rakyat NTT : Sumur Limal Omi Antara Orang Buton dan Orang Mota
tribun maluku
Sumur

POSKUPANGWIKI.COM - Cerita Rakyat NTT, Sumur Limal Omi, asal usul SD GMIT Limarahing Antara Orang Buton dan Orang Mota.

Di Sekolah Dasar Inpres Limahing ada sebuah sumur tua. Sumur ini lain dari pada seumur biasa.

Dalam sumur air itu sebelas meter dan dekat airnya rata-rata empat puluh sampai empat puluh lima centi meter.

Nama dari sumur tersebut ialah Sumur Limal Omi.

Orang Binongko dari Sulawei Tenggara dengan menggunakan perahu lajur mendarat di Limal Omi untuk mengambil air karena mereka kehabisan air minum.

Setibanya mereka di tempat itu ternyata tidak ada air atau sumur.

Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk menggali sumur di tempat, namun tidak segampang seperti yang diharapkan.

Karena di tempat itu banyak batu yang sangat keras. Tetapi dengan kemauan yang keras mereka bekerja akhirnya mereka mendapat air.

Tidak jauh dari sumur tersebut mereka menggarap sebidang tanah untuk memenuhi kebutuhan mereka bercocok tanam juga hidup sebagai nelayan.

Pada suatu malam di saat mereka sedang melaut, tampaklah cahaya di langit tepatnya di sebuah perkampungan.

Cahaya tersebut selalu muncul pada saat mereaka sedang melaut maka tergeraklah hati mereka untuk mencari tahu apa sebenarnya sumber cahaya itu.

Baca juga: Cerita Rakyat NTT Kera dan Buaya, Si Kera Cerdik Menipu si Buaya Jahat

Baca juga: Cerita Rakyat NTT Danau Ranoria Ende, Angker dan ada Belut Raksana  

Baca juga: Cerita Rakyat NTT Raja Udang dan Sisir Perak si Gadis Desa Noemuti Kabupaten TTU

Baca juga: Cerita Rakyat NTT : Tuik Nenok dan Skau Ana, Sejarah Gunung Fatuleu Kabupaten Kupang

Akhirnya mereka tahu bahwa cahaya itu berasal dari patulan sebuah benda pusaka yang berasal dari sebuah kampung yang letaknya jauh di gunung.

Ternyata apa yang diduga itu benar. Benda itu tidak lain dua buah emas yang berbentuk cakram bergaris tengah.

Kedua emas itu seolah-olah memiliki kekuatan gaib sehingga pada malam hari benda itu mengeluarkan cahaya menjadikan langit diatas kampung itu sangat terang.

Tetapi anehnya orang di kampung tersebut tidak melihatnya.

Pada suatu ketika orang-orang Buton ini ingin pulang ke kampung halannya karena mereka sudah rindu pada kampung halamannya.

Oleh karena itu orang Limahing menawarkan untuk membeli sumur yang mereka gali itu. Tetapi orang Buton tidak mau dibayar dengan gong atau moko.

Mereka ingin sumur tersebut dibayar dengan benda yang mengeluarkan cahaya setiap malam diatas sebuah kampung.

Berita tentang penjualan sumur itu sampai di Kampung Mota yang letaknya ditengah gunung maka terjadilah tawar menawar antara orang Buton dan orang Mota.

Akhirnya terdapat suatu kesepakatan, orang Mota mengantar satu dari kedua emas itu dan diserahkan kepada orang Buton.

Sedangkan sumur dan tanah garapan diserahkan kepada orang dari Mota.

Yang mewakili orang Mota dalam menerima sumur dan kebun ialah Bay Teramahi.

Setelah terjadi serah termima maka orang Buton kembali ke kampung halamannya.

Tetapi  anehnya dalam pelayaran mereka mendapat hambatan.

Perahu yang mereka tumpangi tidak dapat  berlayar maju dan tetap berada di peraiaran antar Pura dan Ternate.

Penyebabnya adalah benda pusaka orang Mota yang dibawa orang Buton.

Oleh karena itu terpaksa benda pusaka tersebut dikembalikan.

Mereka mendarat kembali dan membuat api uggun di Jalaming dan dibuangnya emas itu kedalam api disaksikan kedua belah pihak.

Setelah itu mereka berlatar lagi dengan tidak mendapat hambatan.

Salah satu pusaka milik orang Mota tiba-tiba hilang tanpa bekas, orang-orang mengantar salah satu dari emas itu lalu diserahkan kepada orang Buton.

Pada tahun 1923 berdirilah Sekolah Rakyat GMIT Limarahing karena ada sumur peninggalan orang Buton.

Pada tahun 1968 keluarga Teramahi atas nama Welem Taramahi menyerahkan tanah pemberian orang Buton ini kepada  SD GMIT Limarahing. Sebagai milik sekolah yang sekarang letaknya dibelakang SD GMIT Limarahing.

Demikian kisah sumur tua Limal Omi. (*)

Dilansir poskupangwiki.com dari buku Himpunan Cerita Rakyat NTT Seri I yang dibuat oleh Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Arkelogi Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Provinsi NTT, Tahun 2004.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved