Wisata di NTT

Moko atau Nekara si Benda Berharga dari Alor Provinsi NTT

Moko atau drum atau Nekara adalah Salah Satu Benda Berharga yang sering dijadikan mas Kawin oleh Orang Alor Provinsi NTT. 

Penulis: Novemyleo
Editor: Novemyleo
wikipedia indonesia
Moko 

POSKUPANGWIKI.COM - Moko atau drum atau Nekara adalah Salah Satu Benda Berharga yang sering dijadikan mas Kawin oleh Orang Alor Provinsi NTT. 

Dilansir poskuangwiki.com dari laman wikipedia indonesia, Moko adalah drum dengan bagian atas dan bawah yang tertutup, dibuat dengan variasi ukuran yang berbeda-beda dan dapat terbuat dari logam perunggu, tembaga atau kuningan.

Moko telah dipakai sejak ratusan tahun silam sebagai alat tukar (barter) dalam perdagangan dan dibuat dalam beberapa jenis ukuran.

Dari penelusuran yang telah dilakukan, pembuatan drum telah berlangsung sejak peradaban awal kuno dan dapat ditemukan tersebar di Cina Selatan dan Asia Tenggara.

Di daerah Nusa Tenggara Timur secara khusus, Moko telah dipakai sebagai alat musik di abad ke-17 karena bentuknya yang mirip kendhang.

Namun sejak abad ke-19 lebih sering dipakai sebagai maskawin oleh kalangan masyarakat Alor.

Bentuk fisik moko yang seperti drum memiliki tinggi 80-120 centimeter dengan bagian tengah agak mengecil dengan diameter lubang sisi atas dan bawah sekitar 40-70 centimeter.

Selain jenis ini, terdapat moko yang berdiameter 50-100 centimeter dan tinggi 50-250 centimeter. Masyarakat Alor menyebutnya sebagai nekara dimana objek ini jarang dibawa-bawa dan jarang dipakai sebagai maskawin.

Moko
Moko (wikipedia indonesia)

Secara umum, kepemilikan Moko akan meningkatkan status sosial yang dianggap menghargai warisan leluhur meskipun tidak pernah dibuat langsung oleh masyarakat Alor.

Oleh karena itu, penggunaan moko telah lama menjadi lambang status sebagai otoritas elit setempat serta simbol kesuburan sehingga lumrah dipakai sebagai alat maskawin.

Sejarah

Asal-usul moko telah didokumentasikan dengan baik dimana pertukaran ide budaya melalui kontak komersial perdagangan yang berkelanjutan telah mengakibatkan penyaluran beberapa simbolisme seperti kendhang perunggu ke Indonesia timur.

Adapun jalur perdagangan yang menyalurkan simbolisme hingga jarak jauh di waktu periode tertentu adalah rute perdagangan tradisional kuno yang terbentang sepanjang Timur Tengah dan India, jalur tersebut telah melalui Asia Tenggara dan berlanjut sampai ke Cina.

Terdapat dua sumber penting dalam sejarah yang tercatat mempengaruhi penyaluran di Indonesia timur yaitu kerajaan kembar Makasar Gowa-Tallo pada abad ke-13 hingga 16 Masehi.

Khusus kerajaan Tallo yang dominan dengan sektor maritim diketahui memiliki situs arkeologi yang ternyata mencatat semua kontak lama yang telah terjadi sepanjang sejarah.

Dengan letaknya di semenanjung barat daya pulau Sulawesi, Gowa-Tallo diketahui memiliki hubungan dagang yang ekstensif dengan kepulauan barat, dimana penyaluran gagasan dari barat daya Sulawesi difasilitasi hingga lebih jauh ke bagian timur Nusantara.

Selain itu, adanya perjodohan yang tercatat terjadi antara penguasa Tallo dengan Surabaya pun turut mendukung kemajuan pesat dalam penyaluran simbolisme ini.

Hal ini dikarenakan posisi kota Surabaya merupakan pelabuhan utama Kerajaan Majapahit (di ujung timur pulau Jawa) yang melayani perdagangan rempah internasional.

Penguasa Tallo dikenal sering mengunjungi partner-partner dagang di kepulauan Ende (Flores), Banda dan Nusa Tenggara.

Permulaan inilah yang kemudian bergulir hingga situasi politik sosial wilayah timur terkait penggunaan simbolisme kendhang perunggu berkembang.

Ikuti kami di
KOMENTAR
891 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved