Cerita Rakyat NTT

Cerita Rakyat NTT : Telukaman Lailona dan Hakaman Nepedae dari Kabupaten Rote Ndao

Cerita Rakyat NTT : Telukaman Lailona dan Hakaman Nepedae yang Angkuh dari Kabupaten Rote Ndao.

Editor: Novemyleo
tribun
ilustrasi langit 

POSKUPANGWIKI.COM - Cerita Rakyat NTT : Telukaman Lailona dan Hakaman Nepedae yang Angkuh dari Kabupaten Rote Ndao.

Bagaimana kisahnya?

Dalam kepercayaan orang Rote zaman dahulu, Telukaman Lailona adalah penguasa langit dan alam semesta.

Sedangkan Hakaman Neoedae adalah penguasa bumi.

Di antara keduanya sudah ada kesepakatan bahwa Hakaman Nepedae sebagai penguasa bumi wajib memberikan upeti pada Telukaman Lailona setelah ia memanen hasil buminya.

Kesepakatan ini lama kelamaan dikhianati oleh Hakaman. 

Hakaman berpikir bahwa Telukaman sebagi seorang yang malas, yang mau harap gampang.

Baca juga: Cerita Rakyat NTT : Kanis dan Kawus Kakak Beradik Jadi Batu Karena Melakukan Hal Ini

Baca juga: Cerita Rakyat NTT : Pohon Emas Pauan Bahar dari Kabupaten Sikka

Baca juga: Cerita Rakyat NTT : Tokek, Tikus dan Penyu Saling Membunuh di Kabupaten Lembata

Baca juga: Cerita Rakyat NTT : Kera dan Buaya, Si Kera Cerdik Menipu si Buaya Jahat

"Enak saja, saya yang bekerja banting tulang, tak kenal panas terik membakar kulit, tak kenal hujan membasahi badan dari pagi hingga matahari terbenam.

Sekujur tubuhku dibasahi keringat untuk mengolah tanah.

Eh.. dia mah.. tinggal tunggu jadinya saja.

Gerutu Hakaman dalam hati. 

"Saya tidak akan membagi hasil bumi saya. Saya olah setengah mati dia enak saja," katanya dalam hati.

Pada suatu hari Telukaman Lailona berkunjung ke rumah Hakaman.

"Mengapa selama setahun ini engkau tidak membagi hasil olahanmu kepada saya?"  tanya Telukaman kepada Hakaman.

"Yang mulia Telukaman, engkau memang orang yang tak tahu diri, Engkau enak-enak saja tidak bekerja tetapi menuntut pembagian hasil. Mulai sekarang saya tidak akan membagi hasil olahan kepadamu lagi," jelas Hakaman dengan emosi.

"Lihatlah seluruh kekayaan saya, semua lumbungku penuh dan sema periuk penuh dengan gula. Babi-babi saya bertaring besi dan semua ayam jantan bertaji emas. Semua ini karena kekuatan dan kebolehan saya, lalu mengapa kau menuntut persembahan cuma-cuma?" Jelas dan tanya Hakaman.

Mendengar kata-kata Hakaman yang penuh emosi dan keangkuhan itu. Telukaman terdiam sejenak.

Kemudian dengan penuh kelembutan Telukaman berkata: "Sahabatku.. dengarlah dan ingatlah baik-baik, mulai sekarang saya tak akan menuntut persembahan lagi sesuai dengan keinginanmu, tetapi.. mulai hari ini sampai 3 tahun 6 bulan yang akan datang, tidak akan ada hujan ataupun embun  yang menetes ke bumi," kata Telukaman.

"Semua pintu air di langit akan saya tutup dan panas teriknya matahari akan menimpamu selama 3 tahun 6 bulan," lanjut Telukaman kemudian kembalilah Telukaman ke langit," ke tempat kediamannya.

Sepeninggalnya Telukaman, Hakaman bimbang antara percaya dan tidak pada kata-kata Telukaman. 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
904 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved