Sarasehan HIMPSI dan AP2TPI Singgung Pengesahan RUU Praktik Psikologi

Sarasehan HIMPSI dan AP2TPI Singgung Pengesahan Rancangan Undang-Undang Praktik Psikologi yang sudah menjadi bagian dari Program Legislasi Nasional

himpsi dan ap2tpi
Sarasehan HIMPSI atau Himpunan Psikologi Indonesia dan AP2TPI atau Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia ini digelar para psikolog pada Jumat (12/3/2021). 

POSKUPANGWIKI.COM - Sarasehan HIMPSI dan AP2TPI Singgung Pengesahan Rancangan Undang-Undang Praktik Psikologi yang sudah menjadi bagian dari Program Legislasi Nasional ( Prolegnas ) DPR RI Tahun 2020 dan 2021.

Sarasehan HIMPSI atau Himpunan Psikologi Indonesia dan AP2TPI atau Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia ini digelar pada rikolog pada Jumat (12/3/2021).

Dalam Sarasehan itu terungkap, saat ini psikologi telah berkiprah dalam berbagai bidang, seperti pendidikan dan sekolah, klinis, konseling, industri-organisasi, dan forensik, pengembangan komunitas, perilaku konsumen, kesehatan dan rehabilitasi, pelayanan keluarga, olahraga, militer, dan sebagainya.

Kontribusi Psikologi di berbagai bidang secara partial telah diakui dalam setidaknya 10 Undang-Undang yang telah menyebut praktik Psikologi dan juga tenaga Psikologi.

Namun sampai saat ini belum ada Undang-Undang Praktik Psikologi yang dapat menjadi undang-undang payung atau undang-undang induk praktik Psikologi.

Undang-undang induk ini penting agar implementasi undang-undang lainnya yang menyebutkan profesi Psikologi dapat dilaksanakan secara efektif dan dapat memberikan perlindungan terhadap masyarakat.

Sejak tahun 2020, RUU Profesi Psikologi yang kemudian saat ini berdasarkan keputusan DPR telah menjadi RUU Praktik Psikologi telah menjadi Prolegnas Prioritas.

Pada tanggal 5 Oktober 2020, dalam sidang paripurna, DPR telah menetapkan RUU Praktik Psikologi sebagai RUU usulan/ inisiatif DPR.

Pada saat ini, RUU Praktik Psikologi sedang dalam pembahasan di Komisi X DPR RI.

Belum adanya Undang-Undang Praktik Psikologi dan masih kurangnya dalam jumlah 
psikolog dan tenaga psikologi lainnya dapat memicu penyalahgunaan (misuse dan mistreat).

Halaman
1234
Ikuti kami di
Penulis: Novemyleo
Editor: Novemyleo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved