Relawan CIS Timor Tularkan Gerakan Laki-Laki Baru untuk Tomas, Toga & Pemuda

Relawan CIS Timor Tularkan Gerakan Laki-Laki Baru untuk Tomas, Toga dan Pemuda.

Penulis: Novemyleo
Editor: Novemyleo
dok Alfes Lopo
Alfes Lopo, PO CIS Timor atau Circle of Imagine Society Timor 

POSKUPANGWIKI.COM - Relawan CIS Timor Tularkan Gerakan Laki-Laki Baru untuk Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama dan Tokoh Pemuda.

Perkumpulan Relawan CIS Timor atau Circle of Imagine Society Timor tengah berupaya ‘menularkan’ atau mensosialisasikan Gerakan Laki-Laki Baru di seluruh wilayah Provinsi NUsa Tenggara Timur ( NTT ).

Dan kali ini Relawan CIS Timor mensosialisasikan Gerakan Laki-Laki Baru kepada sejumlah tokoh masyarakat atau tomas, tokoh agama atau toga dan tokoh pemuda di 3 kabupaten di NTT. Yakni Kabupaten Timor Tengah Selatan ( TTS ), Kabupaten TImor Tengah Utara ( TTU ) dan Kabupaten Kupang.

Para peserta itu merupakan laki-laki champion berasal dari 12 Desa I WIL dengan maksimal usia 41 tahun yang terdiri dari perwakilan tokoh pemuda, tokoh adat/masyarakat dan tokoh agama.

Yang menjadi narasumber dari kegiatan ini yakni pertama, John Bolla yang akan berbicara tentang konsep laki-laki Ideal di Timor, Upaya-upaya atau strategi untuk konsep laki-laki lama ke konsep laki-laki baru, tantangan dan peluang, pembelajaran dan hasil sejauh ini serta agenda-agenda yang masih perlu mendapat perhatian.

Pembicara kedua yakni Perwakilan dari Komunitas LLB/Komunitas Ojek Soe yang akan memberikan testimoni tentang pemahaman Konsep Laki-laki Baru, sebelum dan sesudah menjadi anggota laki-laki baru,  apa saja upaya yang dilakukan.

Kegiatan itu akan digelar selama dua hari mulai Kamis hingga Jumat (25-26/3/2021) di  Kupang.

PO CIS Timor, Alfes Lopo mengatakan, kekerasan terhadap perempuan adalah fenomena sosial yang senantiasa trejadi dalam kehidupan di tengah masyarakat.

Alves Lopo menjelaskan, Program I-WIL ( Indonesian Women In Leadership ) atas dukungan OXFAM bagi Konsorsium Timor Adil dan Setara NTT di 3 Kabupaten yaitu Kabupaten Kupang, TTS dan TTU.

“Mimpi besar adanya masyarakat yang setara, berkeadilan gender dan inklusi dalam seluruh aspek kehidupan adalah Visi Konsorsium Timor Adil dan Setara NTT dengan Misi membangun kemandirian perempuan secara ekonomi, politik, hukum dan sosial budaya, mengurangi kekerasan berbasis gender, melibatkan laki-laki dalam gerakan menuju masyarakat setara dan anti kekerasan terhadap perempuan serta mendorong perubahan yang adil gender dan inklusi,” kata Alfes Lopo, dalam siaran pers yang diterima POSKUPANGWIKI.COM, Rabu (24/3/2021).

Hingga kini Kesetaraan gender menjadi isu yang masih di perbincangkan oleh masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Masyarakat pada umumunya baik laki-laki dan perempuan sangat melekat kuat dengan budaya patriarki yang mengagungkan dan memposisikan laki-laki sebagai makluk nomor satu dan  Perempuan masih di pandang sebagai makluk nomor dua, makluk lemah dan status di rumah tangga adalah pencari nafkah tambahan.

Kondisi ini sering merugikan perempuan yang tak jarang menjadi objek kekerasan baik secara fisik, psikis, ekonomi dan seksual.

Alves Lopo, PO CIS Timor atau Circle of Imagine Society Timor
Alfes Lopo, PO CIS Timor atau Circle of Imagine Society Timor (dok Alfes Lopo)

Kerja-kerja dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan perjuangan kesetaraan gender, mendorong kepemimpinan perempuan serta pemberdayaan ekonomi bukan saja harus di perjuangkan oleh perempuan tetapi penting melibatkan laki-laki.

Mengapa? Selama ini laki-laki lebih banyak menjadi pelaku kekerasan baik diranah domestik maupun di ranah publik.

“Memang ada laki-laki yang tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan namum masih memilih  diam ketika melihat kekerasan itu terjadi karena masih menganggap urusan pribadi. Kontribusi nilai-nilai budaya patriarki yang lebih mengagungkan laki-laki juga menyumbang pada kekerasan terhadap perempuan,” kata Alfes Lopo.

Menurut Alfes Lopo, untuk memutuskan rantai kekerasan yang ada  sampai saat ini di tengah masyarakat tentu akan berjalan baik jika  pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat dan unsur lainnya dalam masyarakat terlibat langsung memberi kontribusi sesuai dengan peluang-peluang yang bisa  tempuh termasuk dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

Seperti hal yang berkaitan dengan kebiasaan/budaya  untuk merubah norma-norma sosial di tengah masyarakat dari norma-nomra yang masih mendiskriminasi perempua untuk lebih setara dan anti kekerasan.

“Pelatihan tentang gerakan laki-laki baru bagi pemerintah desa, tokoh adat/masyarakat menjadi ruang untuk membangun pemahaman dan pengetahuan tentang bagaimana terlibat, berkontribusi untuk melahirkan lebih banyak laki-laki atau bahkan lingkungan yang lebih setara dan anti kekerasan terhadap perempuan,” kata Alfes Lopo.

Sementara itu Ketua Konsorsium TImor Adil dan Setara atau KTAS NTT, Ansy Rihi Dara, SH mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta tentang stereotype laki-laki yang bias gender;  Memberikan pemahaman kepada peserta tentang laki-laki ideal; Memberikan pemahaman kepada peserta tentang konsekuensi positif menjadi laki-laki baru;

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved