Pengungsi Afganistan di Kupang Curhat Tolong Buka Hatimu IOM dan UNHCR

Sedih, Pengungsi Afganistan di Kupang Curhat, Kami Seperti Burung Dalam Sangkar, Tolong Buka Hatimu IOM dan UNHCR

Penulis: Novemyleo
Editor: Novemyleo
POSKUPANGWIKI.COM/ NOVEMY LEO
Para refugee atau pengungsi asal Afghanistan dalam aksi damai di Kantor IOM Kupang, Provinsi NTT, Rabu (28/4/2021) pagi 

Kubra menyesal karena setiap bulan pihak IOM menemui mereka di penginapan untuk memberikan uang bulanan namun tak berkomunikasi tentang proses ke Negara ketiga. “Beberapa kali kita omong dengan mereka (IOM), tapi tidak ada solusi, tidak ada respon. Itu yang buat kami berkumpul disini. Jika tidak ada respon maka besok kami akan datang lagi,” janji Kubra.

Kubra mengaku mereka capek menunggu proses IOM dan UNHCR. “Selama ini kami hidup tapi sebenarnya tidak hidup. Proses ini terlalu lambat, kami capek, mental capek, otak capek. Orang yang bunuh diri karena mereka sudah capek,” kata Kubra didukung Mahadis dan Yugana.

Mohaddese (20) ingin bekerja dan mengenyam pendidikan yang layak tapi hal itu tidak diperoleh karena statusnya. “Kami seperti hidup di penjara, seperti burung dalam sangkar, punya sayap tapi tak bisa terbang,” kata Mohaddese. Meski demikian Mohaddese berharap teman-temannya tak menyerah sebab hidup masih panjang dan semoga mereka bisa meraih apa yang diinginkannya.

Mohaddese, refugee atau pengungsi asal Afghanistan dalam aksi damai di Kantor IOM Kupang, Provinsi NTT, Rabu (28/4/2021) pagi (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)
“Kami ingin ada kesetaraan dan mendapatkan hak kami. Kami sudah menunggu dengan sangat lama, 9 tahun tapi belum ada perubahan yang signifikan. Berharap ini menjadi perhatian IOM,” kata Mahadis.

Yegane (14) mengkuatirkan para pengungsi mengalami depresi dan masalah mental yang lebih parah karenanya IOM segera bisa memperhatikannya. “Kondisi depresi sangat mengganggu dan menyakiti saya karena melihat orang disekitar tidak punya kesempatan mengembangkan diri. Makin lama hal ini dibiarkan maka setiap orang disini akan mengalami mental problem yang lebih parah,” kuatir Yegane.

Yegane punya mimpinya tapi kuatir tidak bisa meraihnya. “Saya ingin punya rumah sendiri, pekerjaan sendiri. Tapi sepertinya tidak bisa terjangkau saat ini. Saya ingin menjadi dokter tapi sekarang mulai kehilangan harapan karena sudah 13 orang bunuh diri karena mereka capek dan depresi,” kata Yegane.

Yegane, refugee atau pengungsi asal Afghanistan dalam aksi damai di Kantor IOM Kupang, Provinsi NTT, Rabu (28/4/2021) pagi (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)
Yegane berharap anak-anak tetap kuat, tidak putus asa karena Tuhan akan selalu bersama mereka. “Kita harus yakin suatu saat nanti kita akan meraih mimpi kita,” kata Yugana.

Hadis (14) mengaku saat datang ke Indonesia 6 tahun lalu dia tidak tahu apa-apa. Namun sekarang dia sudah mengerti tentang haknya.

“Saya ingin hidup lebih layak, saya ingin menjadi tentara tapi saya pikir saya tidak bisa meraih cita-cita saya selama saya masih tinggal di sini. Tolong lanjutkan proses kami untuk berpindah ke Negara lain, jangan menahan kami disini terus dengan cara seperti,” kata Hadis.

Hadis, refugee atau pengungsi asal Afghanistan dalam aksi damai di Kantor IOM Kupang, Provinsi NTT, Rabu (28/4/2021) pagi (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)
Sejumlah anak-anak, Hadi, Mahdi dan Amir mengaku tak bisa belajar maksimal karena guru tak memadai itulah yang membuat mereka tak bahagia berada di Kupang. Hadi (11) ingin sekali bisa bersekolah dengan baik sehingga bisa menjadi tentara di USA atau di Canada.

Sumber: Pos Kupang

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved