Sisa Kremasi Buddha Ditemukan Arkelog di Desa China, Benarkah?

Sisa Kremasi Buddha Ditemukan Arkelog di Desa China, Benarkah?Baru-baru ini para arkeolog menemukan sisa kremasi Buddha (Siddhartha Gautama)

Penulis: Novemyleo
Editor: Novemyleo
Photo courtesy Chinese Cultural Relics
Sisa kremasi Buddha Siddhartha Gautama 

POSKUPANGWIKI.COM - Sisa Kremasi Buddha Ditemukan Arkelog di Desa China, Benarkah?

Baru-baru ini para arkeolog menemukan sisa kremasi Buddha (Siddhartha Gautama) di dalam sebuah kotak di provinsi Jingchuan, China. Selain penemuan tersebut, mereka juga menemukan 260 patung Buddha.

Tulisan pada kotak tersebut menyebutkan: "Para biarawan Yunjian dan Zhiming dari Sekolah Teratai yang termasuk dalam Kuil Manjusri dari Biara Longxing di Prefektur Jingzhou mengumpulkan lebih dari 2.000 sarira (peninggalan Siddhartha Gautama), seperti gigi dan tulang Sang Buddha, dan menguburkannya di Aula Manjusri di kuil ini."

Tulisan tersebut tertanggal pada 22 Juni 1013. Di tempat penguburan patung dan sisa Buddha tersebut, para arkeolog juga menemukan sisa-sisa struktur yang berasal dari Aula Manjusri.

Dikutip dari Live Science, Selasa (14/11/2017), menurut catatan tersebut, Yunjiang dan Zhiming mengumpulkan sisa-sisa kremasi Buddha selama lebih dari 20 tahun.

Terima kasih telah membaca Kompas.com. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email "Untuk mempromosikan ajaran Buddha, mereka mengumpulkan sarira.

Untuk mencapai tujuan ini, keduanya mempraktikkan ajaran Buddha setiap saat dalam kehidupan mereka selama lebih dari 20 tahun," ujar tulisan tersebut tersebut.

Baca juga: Siapakah Siddhartha Gautama Sang Buddha

Baca juga: Waisak Hari Raya Umat Buddha, Sejarah dan Trihari Suci

"Kadang-kadang mereka menerima sarira dari sumbangan orang lain, terkadang mereka menemukannya secara kebetulan, terkadang mereka membelinya di tempat lain, dan terkadang orang lain memberi mereka sarira untuk menunjukkan ketulusannya," lanjutnya.

Sayangnya, prasasti tersebut tidak menyebutkan tentang 260 patung yang ditemukan bersama sisa kremasi sang Buddha.

Sisa kremasi Buddha Siddhartha Gautama
Sisa kremasi Buddha Siddhartha Gautama (Photo courtesy Chinese Cultural Relics)

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Chinese Cultural Relics ini menyebutkan bahwa para arkeolog sendiri tidak yakin apakah patung-patung tersebut dikuburkan secara bersamaan dengan sisa kremasi.

Para arkeolog yang dipimpin oleh Hong Wu, peneliti dari Institut Peninggalan Kebudayaan dan Arkeologi provinsi Gansu, tidak ingin berspekulasi tentang apakah ini memang sisa-sisa jasad dari Sang Buddha yang telah diketahui meninggal 2.500 tahun yang lalu.

Lagipula, ini juga bukan pertama kalinya, para arkeolog China menemukan jenazah Buddha. Sebelumnya, mereka mengungkap tulang tengkorak manusia yang disimpan dalam peti emas di Nanjing, China, yang diklaim sebagai sisa jenazah Buddha.

Selain sisa kremasi sang Buddha, juga ditemukan sekitar 260 patung Buddha.

Beberapa di antara patung tersebut ada yang tingginya mencapai dua meter dari masa dinasti Wei (tahun 386-534) dan dinasti Song (tahun 960-1279), tulis para arkeolog.

Patung-patung tersebut mencakup penggambaran Buddha, bodhisattva (mereka yang mencari pencerahan), arhat (mereka yang telah menemukan pencerhanan), dan dewa-dewa.

Tulisan-tulisan yang diukirkan pada pelindung laci batu menceritakan tentang bagai bongkahan tengkorak Buddha bisa sampai ada dalam kotak.
Tulisan-tulisan yang diukirkan pada pelindung laci batu menceritakan tentang bagai bongkahan tengkorak Buddha bisa sampai ada dalam kotak. (Sumber Chinese Cultural Relics via Daily Mail)

Salah satu patung yang mencuri perhatian memiliki tulisan di atasnya. "(Saya) menyadari bahwa saya bingung... setiap hari, karena kekaguman saya akan kebijaksanaan Sang Buddha, (saya) menyumbang pengeluaran harian saya sebagai penghormatan, untuk memahat patung Buddha Sakyamuni, berdoa untuk umur panjang, dan...," ujar tulisan di patung tersebut yang beberapa baris selanjutnya tidak bisa terbaca.

Penemuan ini bermula dari penduduk desa yang menemukan patung-patung dan sisa Buddha saat memperbaiki jalan pada Desember 2012 di Desa Gongchi, Jingchuan. Selama beberapa tahun berikutnya, para arkeolog menggali dan merinci temuan mereka.

Temuan Tulang Belulang Berusia 1.000 Tahun, Milik Sang Buddha?

Sebuah temuan di dalam peti berusia 1.000 tahun ini memberikan titik terang bagi para ahli arkeologi. Menurut para peneliti, isi kotak emas berupa serpihan-serpihan tulang diduga milik Siddhartha Gautama.

Mereka mengatakan ada bongkahan tengkorak bercampur dengan sekumpulan sisa-sisa orang suci, sang Buddha.

Ajaran Siddhartha Gautama menjadi landasan agama Buddha.

Tulisan-tulisan yang diukirkan pada pelindung laci batu menceritakan tentang bagai bongkahan tengkorak Buddha bisa sampai ada dalam kotak.
Tulisan-tulisan yang diukirkan pada pelindung laci batu menceritakan tentang bagai bongkahan tengkorak Buddha bisa sampai ada dalam kotak. (Sumber Chinese Cultural Relics via Daily Mail)

Menurut Daily Mail yang dikutip pada Sabtu (2/7/2016), tim arkeologi mendapatkan temuan itu saat melakukan penggalian Kuil Buddha di Nanjing, China, pada 2010.

Ketika mereka membuka sebuah peti batu dalam ruang rahasia di bawah kuil, mereka menemukan stupa berhias yang lazim dipakai untuk meditasi.

Menurut Live Science, bentuknya berupa kotak berukuran panjang 117 cm dan lebar 45 cm, terbuat dari kayu cendana, emas, dan perak, bertatahkan permata.

Kotak itu berisi tulang-belulang dan luarnya dihiasi dengan gambar bunga teratai, burung phoenix, dan 'penjaga-penjaga' kotak.

Perbesar
 
Tim itu kemudian melaporkan dalam Chinese Cultural Relics untuk menjelaskan tulisan yang tertera pada lemari batu yang bertarikh sekitar tahun 1.000 Masehi, sekaligus memeriksa nama para penyandang dana serta pembuat kuil itu.

Demikian juga dengan pemeriksaan nama mereka yang tulang belulangnya ada di dalam kotak.

Tulisan-tulisan yang diukirkan pada pelindung laci batu menceritakan tentang bagai bongkahan tengkorak Buddha bisa sampai ada dalam kotak.
Tulisan-tulisan yang diukirkan pada pelindung laci batu menceritakan tentang bagai bongkahan tengkorak Buddha bisa sampai ada dalam kotak. (Sumber Chinese Cultural Relics via Daily Mail)

Penjelasan Live Science menyebutkan bahwa tulang-belulang itu ditemukan dalam kotak kecil emas yang tingginya kurang 8 cm, berada di dalam wadah perak yang lebih besar setinggi 20 cm.

Wadah itu terkunci di dalam stupa, di hadapan kotak-kotak yang tersimpan dalam lemari batu. Dengan demikian, dapat diduga bahwa isinya dianggap penting bagi para biarawan Kuil Bao’en Agung di Nanjing.

Perbesar
 
Tulisan-tulisan yang diukirkan pada pelindung laci batu menceritakan tentang bagaimana bagian tengkorak Buddha bisa sampai ada dalam kotak emas kecil di dalamnya.

Menurut seorang pria bernama 'Deming', setelah Buddha meninggal dunia, jasadnya dikremasi di sungai Hirannavati, hingga akhirnya raja yang sedang berkuasa saat itu membagi jasadnya dalam ribuan bagian. Ada 19 bagian yang dibawa ke China.

Salah satu serpihan tulang adalah tulang parietal (ubun-ubun tengah-belakang) dan bercampur dengan tulang belulang orang-orang suci, sang Buddha.

Tapi perjalanannya berbelok-belok sehingga tempat peristirahatan terakhir relik itu hancur saat masa kekacauan. Kuil itu didirikan kembali oleh Kaisar Zhenzong pada abad ke-11. (*)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved