Pengalaman Seru Dokter Yudit Saat Terpapar Covid-19 dan Dirawat di RS Yohannes Kupang

Deo Gratia, Saya Masih Diberi Kesempatan! Demikian kesaksian Dokter Yudith Marieta Kota, usai sembuh dari Covid-19.

Editor: Novemyleo
dok Dokter Yudith Marieta Kota
Dokter Yudith Marieta Kota 

Sambil mengelus kepala Si Ibu perawat bilang, “Mama sangat bahaya kalau Mama paksa turun dan mengejan, saturasi oksigen akan mendadak turun dan sangat berbahaya, Mama harus bisa BAB dipampers, mama tenang saja, nanti akan saya bersihkan dan akan saya ganti dengan pempers yang baru."

Bujukan perawat berhasil.

Selama tiga hari berikutnya tgl 2, 3 dan 4 Agustus, kondisiku stabil. Hanya makanan terasa tawar, punggung tangan kiriku tempat infus triway bengkak. Karena masih ada obat yang harus dimasukan lewat suntikan, perawat akan memasang lagi triway dipunggung tangan kanan.

Wah saya tidak bisa lagi membalas WA dari teman dan pasien. Para pasien tidak tahu saya dirawat dan kadang mereka masih konsultasi sakitnya melalui WA.

Tanggal 4 Agustus, saya pindah ke kamar lain karena ada seorang ibu yang oksigennya terus menurun,  dia butuh alat bantu pernafasan  HFNC.

Proses perpindahan pasien baru ini cukup menegangkan, tempat tidurku harus dikeluarkan terlebih dahulu karena pasien baru harus dipindahkan bersama tempat tidurnya + tabung oksigen yang besar beserta tiang infus.

Satu perawat terus mendampingi pasien dengan mengelus-elus dadanya, memberi semangat.

Nafas Si Ibu tersengal dan saturasi oksigen di monitor terus turun hanya 40.

Dua orang perawat sudah kembali, bertiga mereka siap-siap memindahkan Si Ibu kekamar sebelah, setelah semua kabel dilepas dari ventilator yang lama.

Perawat yang satu mendorong tabung oksigen besar, yang satu lagi memegang tiang infus dan perawat yang satu lagi membantu dorong tempat tidur.

Puji Tuhan mereka bertiga berhasil keluar melewati pintu yang agak sempit. Siang harinya kutanya bagaimana kedaan ibu yang tadi.

“Syukurlah Dok, pasien tadi sudah tenang dan saturasi oksigennya membaik.”

Terima kasih

Kamis jam setengah lima sore, ada WA dari dokter spesialis Paru bahwa hasil D-Dimer saya sudah normal, jadi besok bisa pulang.

Malam harinya saat salah seorang perawat mengantar obat dan memberikan suntikan yang terakhir, saya iseng bertanya apakah ada yang pulang sembuh mengucapkan terimakasih.

Sambil tertunduk malu si perawat menjawab, “Hampir tidak pernah ada Dok, tapi tidak apa, asal mereka sehat dan sudah sembuh kami sudah bahagia dan senang, karena sudah menjadi kewajiban kita untuk melayani kan Dok?” katanya sambil tertawa.

Saya terdiam, dan berjanji akan mewakili semua pasien yang telah dirawat dan sembuh untuk menyampaikan terimakasih khusus para pahlawanku. 

Jumat 6 Agustus jam 11 siang saya pulang. Saya bersyukur pada Tuhan boleh pulang dalam keadaan selamat dari virus yang memakan banyak korban, termasuk para sahabat dan kerabatku.

"Terima kasih sudah memberikan satu lagi kesempatan untuk boleh melanjutkan hidup, dan semoga disisa hidup ini dapat bermanfaat bagi sesama, karena kebaikan akan menemukan jalannya sendiri dan tidak pernah sia-sia. Terima kasih." (*)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved