Pengalaman Seru Dokter Yudit Saat Terpapar Covid-19 dan Dirawat di RS Yohannes Kupang

Deo Gratia, Saya Masih Diberi Kesempatan! Demikian kesaksian Dokter Yudith Marieta Kota, usai sembuh dari Covid-19.

Editor: Novemyleo
dok Dokter Yudith Marieta Kota
Dokter Yudith Marieta Kota 

POSKUPANGWIKI.COM - Deo Gratia, Saya Masih Diberi Kesempatan! Demikian kesaksian Dokter Yudith Marieta Kota, usai sembuh dari Covid-19.

Dokter Yudith Marieta Kota adalah Direktur Rumah Sakit Kartini Kupang.

Berkorban untuk orang lain itu lah salah satu elemen dasar karakter pahlawan. Menjelang hari Kemerdekaan RI yang ke 76,saya ingin berbagi ucapan terima kasih untuk para pahlawanyang telah berjasa selama pandemi.

Pada hari ini secara khusus saya mau mengucapkan terimakasih pada Tuhan karena berkat cinta kasihNya, melalui tenaga kesehatan, para relawan dan siapa saja dengan caranya masing-masing  telah merawat dan menyelamatkan nyawa pasien COVID-19, yang salah satunya adalah saya.

Mereka lah pahlawan yang telah bekerja, berkorban dan merelakan nyawanya menyelamatkan banyak orang.  Pahlawan yang terus bekerja dalam diam, tak membalas walau dihujat, dan dengan tulus merawat dan menolong sesama yang membutuhkan.

Pahlawan saat pandemi

Meski bekerja sebagai dokter, saya pun akhirnya juga terpapar sebagai pasien COVID-19. Saya ingin bercerita memberikan semacam kesaksian sebagai pasien yang ingin berbagi pengalaman selama tujuh hari dirawat sebagai pasien COVID-19  di Ruang Komodo, RSUD. Prof. DR. W.Z. Johannes Kupang.

Dua hari sebelumnya,  tgl 27 dan 28 Juli 2021, tenggorokkan terasa serak, gatal dan sedikit batuk. Saya putuskan saja untuk swab antigen. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, saya bertanya dalam hati.

"Seandainya hasil  swab antigen positif, kira-kira aku terpapar dari siapa dan dimana?"

Sejak Pandemi saya patuh pada protokol kesehatan, bahkan ada temanku yang bilang agak lebay, karena di tempat praktek kubuatkanchamber khusus biar tak kontak langsung dengan pasien.

Ruang periksa dan ruangan menulis resep  juga terpisah, semua pasien dan pendamping pasienpun diwajibkan menggunakan masker, dan saya menolak hadir bila ada undangan pertemuan dihadiri banyak orang.

Ternyata hasil swab antigen positif, segera saya hubungi dokter spesialis penyakit dalam. Keputusannya harus dirawat karena masuk kelompok Comorbid,  walau masih bergejala ringan tapi punya penyakit autoimun Syorgen & Hashimoto.

Dokter Yudith Marieta Kota
Dokter Yudith Marieta Kota (dok Dokter Yudith Marieta Kota)

Sebelum di-isolasi di RS Kartini, difoto rontgen paru dan swab PCR, EKG (rekam jantung) dan pemeriksaan darah lengkap.

Jam 3 sore, seorang teman dokter, menyampaikan hasil diskusi dokter spesialis penyakit dalam bahwa besok pagi harus dirujuk ke RSU Prof. DR. WZ Johannes, karena khawatir bisa terjadi perburukkan, karena autoimmune dan belum vaksin.

Dokter Yudith Marieta Kota (dok Dokter Yudith Marieta Kota)
Hari Jumat 30 JuliJam, jam 10 saya diantar perawat dan sopir ambulanske RSU. Di Ruang Komodo sudah menunggu seorang perawatberbaju hasmat lengkap.

Ruangan cukup luas dan bersih. Tepat diatas kepala tempat tidur tersedia panel oksigen sentral, dan di samping ada meja yang diatasnya ada ventilator lengkap, dan kabel yang siap dihubungkan ke panel oksigen sentral.

Sebelum pergi perawat menyampaikan instruksi dokter spesialis paru bahwa saya akan di-CT Scan Thoraks siang ini, dan darahnya perlu diperiksa.

Jam 1 siang tiba diruangan usai CT Scan, perawat mengatakan, ”Dok, kami mau ambil darah, semoga tidak gagal, karena dengan sarung tangan tebal berlapis agak sulit meraba nadi!

Sambil tersenyum dan memegang tangannya saya bilang, "Santai saja, saya yakin kamu pasti berhasil dengan sekali tusukan, walaupun nanti gagal tak usah sungkan saya siap untuk ditusuk lagi."

Mereka berhasil dengan sekali tusukan.

Makanan siang sudah ada,tapi  kenapa saat membuka kotak makanan, saya tak ada selera. Mual.

Syukurlah satu buah jeruk dan setengah buah apel tidak ditolak perut. Setelah itu berusaha untuk menutup mata.

Dokter spesialis berkunjung menyampaikan hasil pemeriksaan D-Dimer saya sangat tinggi. Nilainya 933.000. D-Dimer normalnya: <500ng>

Hasil CT Thoraks ada sedikit gambaran GGO (Ground Glass Opacity)dibagian basal paru-paruku, gambaran khas paru-paru pasien covid-19.

“Dok, tak usah khawatir, nanti akan diberikan obat melalui suntikan di perut untuk menurunkan D-Dimer, juga akan dilanjutkan obat antivirus dan antibiotik selama 7 hari, dan nanti sore ada seorang ibu yang akan sekamar dengan dokter, saturasi oksigennya terus menurun,dia membutuhkan alat bantu pernafasan HFNC (High Flow Nasal Cannula),” kata Dokter Spesialis Paru berusaha menenangkan.

Jam 5 sore dua perawat masuk mengantar pasien baru. Cukup berat kondisinya karena  saat tiba langsung dihubungkan dengan alat bantu pernafasan HFNC. Pasien merintih dengan nafas tersengal.

“Mama, yang tenang ya, Mama sudah dibantu dengan alat yang bagus, jangan panik, terus berdoa dalam hati minta pertolongan Tuhan, bernafas pelan-pelan saja,” kata seorang perawat mencoba menenangkan pasien itu, sambil mengelus-elus dada pasien. SI Ibu pun mengangguk.

“Nah bagus Mama, ini saturasi oksigen mulai naik, kalau butuh sesuatu pencet bel saja,” kata perawat.

Seorang perawat lagi sambil mengamati ventilator,  mengatur selang infus berisi cairan obat.

Menjelang malam, pesanteman-teman dokter menanyakan keadaanku di WA dan terus memberi semangat. Terharu juga banyak yang peduli.

Tapi kupesan di salah satu teman, tak usah di-posting di grup kalau saya dirawat. Bukan tak mau diketahui kena COVID-19, tapi saya tak sanggup menjawab WA yang akan masuk nantinya.

Dingin

Sambil menunggu obat lewat selang infus, saya harus makan dan minum obat. Satu buah telur bumbu saya habiskan. Jam setengah tujuh malam perawat masuk membawa beberapa obat suntikan.

Satu jenis obat disuntik melalui otot  perut,  dua lagi akan dimasukan melalui  infus triway,  satu lagi  obat antivirus di-drip. Setelah obat-obatan masuk saya berusaha tidur.

Tiba- tiba badan terasa dingin. Saat perawat masuk memberi obat untuk pasien di samping, saya minta suhu AC ruangan dinaikkan.

Kedua kaki kupeluk supaya lebih hangat. Bed cover besar dari rumah cukup membantu  mengatasi rasa dingin. Jam 9 malam, seorang perawat perempuan masuk menanyakan keadaanku.

“Mari Dok, saya bantu oleskan minyak kayu putih dipunggung biar hangat!” katanya. Ia mulai mengoles dan dipijit dari leher sampai kaki.

"Terimakasih ya, kamu baik sekali."

“Sama-sama Dok, kalau butuh apa-apa jangan sungkan, bel saja,” katanya

Perawat beranjak ke pasien disebelahku. “Mama, bagaimana? Tadi tidak makan malam ya? Saya suapkan, biar satu dua sendok saja tak apa, biar cepat sembuh, harus semangat!”

Perawat mulai menyuap makanan. Hanya beberapa suap yang masuk karena Si Ibu mengeluah mual dan nyeri uluhati. Perawat membersihkan mulut Ibu dan menyodorkan segelas air  hangat.

“Mama tidur ya, masker yang dipasang  jangan di buka-buka atau dilepas ya Mama, saya gosokan badan mama dengan minyak kayu putih ya!"

Si ibu hanya bisa menganggukkan kepalanya. Saya tersentuh. Betapa baiknya perawat ini.

Sekitar jam setengah enam pagi, Hari Sabtu, 31 Juli, saya terbangun kembali merasa kedinginan,dingin yang amat sangat terasa menusuk sampai tulang. Gigiku gemeretak.

Saya coba ukur sendiri suhu tubuh  35, 8 dan saturasi oksigen 97. Apa yang salah dengan tubuhku?

Saya telfon anak untuk  bawa lagi bed cover extra, dapat pinjaman jacket,long john,dari teman.

Barang-barang pinjaman dari teman sangat membantu, karena satu jam kemudian badanku mulai terasa hangat, dan berkeringat dan suhu di ukur naik menjadi 37,7 saturasi oksigen 98. Puji Tuhan.

Saya coba WA salah satu dokter spesialis penyakit dalam, ia bilang kedinginan yang dirasakan sejak kemarin adalah reaksi tubuh terhadap antigen virus yang mulai bekerja.

“Usahakan jangan minum obat penurunan panas, biar terbentuk antibodi, kecuali suhu diatas 38 C,” itu pesannya.

Malam ini aku tak bisa makan. Rasa mual semakin menjadi-jadi, dan hanya bisa minum susu almond, ½ buah apel dan jeruk sedikit.

Jam 11 siang perut mules, dan ternyata diare. Sepanjang hari diare sekitar 4 kali.  

Sekitar Jam 12.30di-visite oleh dokter pesialis penyakit dalam, ia mengatakan bahwa hasil CT Scan Thorax ada sedikit ganggguan ringan saya dianjurkan untuk terus latihan pernafasan posisi Prone, dan obat-obat autoimun bisa terus dilanjutkan, hanya Vitamin D3 yang dinaikan dosisnya menjadi 1x 5000 mg.

Hari Minggu tanggal 1 Agustus,  jam 4 pagi bangun dengan perut sangat lapar. Dua onde goreng dan  2 lemper ayam habis. Dengan tangan kiri yang masih diinfus  ke kamar mandi karena diare lagi.

Setiap habis diare badan terasa lebih nyaman.  Jam 5 pagi seorang perawat  laki-laki masuk jadwal rutin mengecek tekanan darah, saturasi oksigen dan suhu badan dalam batas normal.

“Semangat Dok,  kami disini juga beberapa orang teman perawat sudah terpapar COVID bahkan ada yang terpapar sampai dua kali, ada juga yang menularkan ke anak-anaknya dirumah tapi syukur semuanya sembuh, dan sudah kembali bekerja.”

Ibu disampingku masih tidur, tapi nafasnya sudah jauh lebih tenang, kulirik saturasi oksigen pada alat ventilator sudah normal.

Jam 7.30  pagi sarapan .Kuhabiskan setengah potong ayam  dan telur dadar tanpa nasi.  Si Ibu sudah bangun duduk ditempat tidur.

Jauh lebih segar dan sudah bisa makan sendiri.  Beberapa saat kemudian masuk perawat. Ia gembira melihat Si Ibu sudah makan sendiri.

Si Ibu itu tersenyum, dan bilang, "Suster perut saya mules mau BAB."

“Ok Mama, jangan turun ya, Mama BAB saja di pempers," katanya.

Sambil mengelus kepala Si Ibu perawat bilang, “Mama sangat bahaya kalau Mama paksa turun dan mengejan, saturasi oksigen akan mendadak turun dan sangat berbahaya, Mama harus bisa BAB dipampers, mama tenang saja, nanti akan saya bersihkan dan akan saya ganti dengan pempers yang baru."

Bujukan perawat berhasil.

Selama tiga hari berikutnya tgl 2, 3 dan 4 Agustus, kondisiku stabil. Hanya makanan terasa tawar, punggung tangan kiriku tempat infus triway bengkak. Karena masih ada obat yang harus dimasukan lewat suntikan, perawat akan memasang lagi triway dipunggung tangan kanan.

Wah saya tidak bisa lagi membalas WA dari teman dan pasien. Para pasien tidak tahu saya dirawat dan kadang mereka masih konsultasi sakitnya melalui WA.

Tanggal 4 Agustus, saya pindah ke kamar lain karena ada seorang ibu yang oksigennya terus menurun,  dia butuh alat bantu pernafasan  HFNC.

Proses perpindahan pasien baru ini cukup menegangkan, tempat tidurku harus dikeluarkan terlebih dahulu karena pasien baru harus dipindahkan bersama tempat tidurnya + tabung oksigen yang besar beserta tiang infus.

Satu perawat terus mendampingi pasien dengan mengelus-elus dadanya, memberi semangat.

Nafas Si Ibu tersengal dan saturasi oksigen di monitor terus turun hanya 40.

Dua orang perawat sudah kembali, bertiga mereka siap-siap memindahkan Si Ibu kekamar sebelah, setelah semua kabel dilepas dari ventilator yang lama.

Perawat yang satu mendorong tabung oksigen besar, yang satu lagi memegang tiang infus dan perawat yang satu lagi membantu dorong tempat tidur.

Puji Tuhan mereka bertiga berhasil keluar melewati pintu yang agak sempit. Siang harinya kutanya bagaimana kedaan ibu yang tadi.

“Syukurlah Dok, pasien tadi sudah tenang dan saturasi oksigennya membaik.”

Terima kasih

Kamis jam setengah lima sore, ada WA dari dokter spesialis Paru bahwa hasil D-Dimer saya sudah normal, jadi besok bisa pulang.

Malam harinya saat salah seorang perawat mengantar obat dan memberikan suntikan yang terakhir, saya iseng bertanya apakah ada yang pulang sembuh mengucapkan terimakasih.

Sambil tertunduk malu si perawat menjawab, “Hampir tidak pernah ada Dok, tapi tidak apa, asal mereka sehat dan sudah sembuh kami sudah bahagia dan senang, karena sudah menjadi kewajiban kita untuk melayani kan Dok?” katanya sambil tertawa.

Saya terdiam, dan berjanji akan mewakili semua pasien yang telah dirawat dan sembuh untuk menyampaikan terimakasih khusus para pahlawanku. 

Jumat 6 Agustus jam 11 siang saya pulang. Saya bersyukur pada Tuhan boleh pulang dalam keadaan selamat dari virus yang memakan banyak korban, termasuk para sahabat dan kerabatku.

"Terima kasih sudah memberikan satu lagi kesempatan untuk boleh melanjutkan hidup, dan semoga disisa hidup ini dapat bermanfaat bagi sesama, karena kebaikan akan menemukan jalannya sendiri dan tidak pernah sia-sia. Terima kasih." (*)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved