Daftar Desa di Kecamatan Pariaman Selatan, Kota Pariaman, Provinsi Sumatra Barat

Pariaman Selatan adalah sebuah Kecamatan di Kota Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia yang beribu kota di Desa Balai Kurai Taji yang merupakan pasar lok

Editor: Novemyleo
tribun
Tempat Wisata di Provinsi Sumatera Barat 

POSKUPANGWIKI.COM - Daftar Desa di Kecamatan Pariaman Selatan, Kota Pariaman, Provinsi Sumatra Barat

Pariaman Selatan adalah salah satu Kecamatan di Kota Pariaman, Provinsi Sumatra Barat.

Pariaman Selatan adalah sebuah Kecamatan di Kota Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia yang beribu kota di Desa Balai Kurai Taji yang merupakan pasar lokal.

Berikut adalah daftar 16 desa di Kecamatan Pariaman Selatan, Kota Pariaman, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia yang dilansir poskupangwiki.com dari laman wikipedia indonesia :

1. Desa Balai Kurai Taji

2. Desa Batang Tajongkek

3. Desa Kampung Apar

4. Desa Marabau

5. Desa Marunggi

6. Desa Padang Cakur

7. Desa Palak Aneh

8. Desa Pasir Sunur

9. Desa Pauh Kurai Taji

10. Desa Punggung Lading

11. Desa Rambai

12. Desa Sikabu

13. Desa Simpang

14. Desa Sungai Kasai

15. Desa Taluk

16. Desa Toboh Palabah

PROFIL KOTA PARIAMAN

Kota Pariaman di Provinsi Sumatra Barat, Indonesia

Kota Pariaman adalah salah satu kota yang ada di Provinsi Sumatra Barat, Indonesia.

Kota Pariaman dijuluki Kota Tabuik dan memiliki Motto Sabiduak Sadayuang.

Kota ini berjarak sekitar 56 km dari Kota Padang atau 25 km dari Bandara Internasional Minangkabau. Pada tahun 2021, jumlah penduduk kota ini sebanyak 95.519 jiwa.

Sejarah

Menurut laporan Tomé Pires dalam Suma Oriental yang ditulis antara tahun 1513 and 1515, kota Pariaman ini merupakan bagian dari kawasan rantau Minangkabau. Dan kawasan ini telah menjadi salah satu kota pelabuhan penting di pantai barat Sumatra.

Pedagang-pedagang India dan Eropa datang dan berdagang emas, lada dan berbagai hasil perkebunan dari pedalaman Minangkabau lainnya. Namun pada awal abad ke-17, kawasan ini telah berada dalam kedaulatan kesultanan Aceh.

Seiring dengan kedatangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1663 yang kemudian mendirikan kantor dagang di kota Padang yang kemudian pada tahun 1668 berhasil mengusir pengaruh kesultanan Aceh di sepanjang pesisir pantai barat Sumatra, mulai dari Barus sampai ke Kotawan.

Dan kemudian pemerintah Hindia Belanda memusatkan aktivitasnya di kota Padang, dan membangun jalur rel kereta api antara kota Padang dengan kota Pariaman, sehingga lambat laun pelabuhan Pariaman pun mulai kehilangan pamornya.
Geografi

Kota Pariaman merupakan hamparan dataran rendah yang landai terletak di pantai barat Sumatra dengan ketinggian antara 2 sampai dengan 35 meter di atas permukaan laut dengan luas daratan 73,36 km⊃2; dengan panjang pantai ± 12,7 km serta luas perairan laut 282,69 km⊃2; dengan 6 buah pulau-pulau kecil di antaranya Pulau Bando, Pulau Gosong, Pulau Ujung, Pulau Tangah, Pulau Angso dan Pulau Kasiak.

Batas Wilayah

Utara : kecamatan V Koto Kampung Dalam, kabupaten Padang Pariaman
Timur : kecamatan VII Koto Sungai Sarik, kabupaten Padang Pariaman
Selatan : kecamatan Nan Sabaris, kabupaten Padang Pariaman
Barat : Samudera Hindia

Pemerintahan

Kota Pariaman diresmikan sebagai kota otonom oleh Menteri Dalam Negeri, Hari Sabarno pada tanggal 2 Juli 2002 berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2002 tentang pembentukan kota Pariaman di Provinsi Sumatra Barat.

Sebelumnya kota ini berstatus kota administratif dan menjadi bagian dari kabupaten Padang Pariaman berdasarkan Peraturan pemerintah Nomor 33 Tahun 1986 yang diresmikan tanggal 29 Oktober 1987 oleh Mendagri Soepardjo Rustam dengan Wali kota pertamanya Drs. Adlis Legan (1987-1993).

Kecamatan

Kota Pariaman memiliki 4 kecamatan, 16 kelurahan dan 55 desa. Luas wilayahnya mencapai 66,13 km⊃2; dan penduduk 88.984 jiwa (2017) dengan sebaran 1.346 jiwa/km⊃2;.

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kota Pariaman, adalah sebagai berikut:

1. Kecamatan Pariaman Selatan

2. Kecamatan Pariaman Tengah

3. Kecamatan Pariaman Timur

4.  Kecamatan Pariaman Utara

Pariwisata

Kota Pariaman fokus membenahi dan mengembangkan sektor pariwisata bahari secara berkesinambungan karena memiliki pantai landai dengan pesona yang indah. Objek wisata pantai Pariaman di antaranya yang paling terkenal adalah pantai Gandoriah yang berlokasi di depan stasiun kereta api Pariaman yang dilengkapi dengan sarana prasarana seperti Anjungan, Pujasera, Plaza Gandoriah, Dermaga Apung, Monumen Perjuangan TNI AL, Gandoriah Bridge dan Jembatan Muaro.

Pantai Kata dengan Taman Kota (Ex. Astaka MTQ Nasional Provinsi), Air Mancur menari, Anjungan, Resort dan Monumen Ikan di Karan Aua-Taluak, Pantai Pasir Lohong dengan Taman Anas Malik dan Taman Pemuda Asean (Asean Young Park) di Lohong, Pantai Cermin di Karan Aua, Rawa Mati di Mangguang, Pantai Belibis di Nareh dan memiliki Hutan bakau serta Pusat Penangkaran Penyu pertama di Sumatra Barat di Pantai Penyu, Apa, Kec. Pariaman Utara.

Selain itu Kota yang bermotto Sabiduak Sadayuang ini juga memiliki 6 (enam) pulau kecil yang tak berpenghuni yang terus dikembangkan sarana dan prasarananya sebagai destinasi wisata oleh Pemerintah Kota setempat di antaranya Pulau Angso Duo, Pulau Bando, Pulau Gosong, Pulau Ujuang, Pulau Tangah dan Pulau Kasiak.

Kota ini juga dikenal dengan pesta budaya tahunan tabuik yang prosesi acaranya diselenggarakan mulai dari tanggal 1 Muharam sampai pada puncaknya tanggal 10 Muharam setiap tahunnya. Saat ini terdapat 2 museum rumah Tabuik yakni Rumah Tabuik Subarang di Jl. Imam Bonjol, Cimparuah Samping Balai Kota dan Rumah Tabuik Pasa di Jl. Syekh Burhanuddin, Karan Aua yang memuat informasi sejarah perkembangan dan pembuatan tabuik beserta replikanya.

Budaya

Masyarakat di kota Pariaman ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan etnis Minangkabau umumnya. Sebagai kawasan yang berada dalam struktur rantau, beberapa pengaruh terutama dari Aceh masih dapat ditelusuri sampai sekarang, di antaranya penamaan atau panggilan untuk seseorang di kawasan ini, misalnya ajo (lelaki dewasa, dengan maksud sama dengan kakak) atau cik uniang (perempuan dewasa, dengan maksud sama dengan kakak) sedangkan panggilan yang biasa digunakan di kawasan darek adalah uda (lelaki) dan uni (perempuan).

Selain itu masih terdapat lagi beberapa panggilan yang hanya dikenal di kota ini seperti bagindo, sutan atau sidi (sebuah panggilan kehormatan buat seseorang yang telah menikah dirumah mertuanya tapi tidak dirumah orang tua kandungnya).

Kemudian dalam tradisi perkawinan, masyarakat pada kota ini masih mengenal apa yang dinamakan Ba japuik yaitu semacam tradisi di mana pihak mempelai wanita mesti menyediakan uang dengan jumlah tertentu yang digunakan sebagai uang kehormatan untuk keluarga mempelai prianya. (poskupangwiki.com/ novemy leo/*)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved