Heban Koker, Perayaan Hidup yang Harmonis Orang Atawolo Lembata

Ritual Heban Koker atau pemugaran rumah adat ini terakhir kali digelar pada tahun 1988 atau 33 tahun yang lalu.

Editor: Novemyleo
pos kupang/ ricko wawo
Heban Koker, Perayaan Hidup yang Harmonis Orang Atawolo Lembata 

POSKUPANGWIKI.COM - Heban Koker, Perayaan Hidup yang Harmonis Orang Atawolo Lembata

Ritual Heban Koker atau pemugaran rumah adat ini terakhir kali digelar pada tahun 1988 atau 33 tahun yang lalu.

Proses persiapan Heban Koker dilakukan selama setahun berdasarkan petunjuk-petunjuk dari Sang Molan.

Tahun ini, Heban Koker berhasil mengumpulkan kembali sekitar 800-an orang dari 12 suku yang berasal dari Atawolo, baik yang ada di Lembata maupun yang ada di perantauan.

“Koker atau rumah adat kami sudah rusak maka kami harus bangun baru lagi. Prosesnya mulai duduk rencana sama-sama kapan gelar acara ini, lalu tahapan ini kita minta dukun (molan) bisa berikan petunjuk, lalu mulai dengan upacara di depan rumah yang mau dibongkar, fondasi dan sampai atap,” papar Ben Namang.

Setelah Doka Tua Magu, para kepala suku kembali duduk melingkar di depan rumah adat.

Kepada mereka akan disuguhkan makanan adat berupa nasi dan daging yang hanya direbus tanpa racikan bumbu apa pun. Ritus ini disebut Lagan Kapitan Kabelek.

Heban Koker, Perayaan Hidup yang Harmonis Orang Atawolo Lembata
Heban Koker, Perayaan Hidup yang Harmonis Orang Atawolo Lembata (pos kupang/ ricko wawo)

Rumah adat (koker) memang berbeda dengan rumah biasa. Koker punya fungsi sosial mengumpulkan sesama anggota dalam suku saat seremonial adat apa saja.

Biasanya, setiap tahun pada bulan Maret dan April, para anggota suku pulang ke kampung untuk upacara makan jagung.

Koker juga menjadi semacam mesbah untuk memanjatkan syukur, memohon berkat, pengampunan dan menolak sakit penyakit.

Hidup Harmonis Bersama Alam

Semua orang Atawolo sadar kalau kembali ke kampung lama berarti kembali menjalani laku hidup yang harmonis bersama alam.

Kampung lama merupakan pusat dari keseluruhan hidup orang Atawolo karena dari tempat itu mereka berasal.

Kampung lama berada di bukit yang ditutupi pohon-pohon besar yang rimbun. Di dalamnya, terdapat rumah adat dari 12 suku orang Atawolo yang mengelilingi rimbunnya pepohonan besar.

Ke-12 suku di Atawolo yaitu suku Karang, Koles, Mehan, Dolun, Luon Lamawangun, Henakin, Melwitin, Namang Nalaulolo, Namang Bnat Lolo, Namang Bnat Lenge, Nuban, dan Nuba Kupak.

Ada banyak hal yang tidak boleh dilakukan ketika orang berada di dalam kampung lama.

Misalnya, tidak boleh menebang pohon, mematahkan dahan pohon, mencabut tanaman-tanaman yang tumbuh di sana.

Jika ada yang melanggar maka perlu dilakukan upacara adat untuk pemulihan.

Orang Atawolo percaya pelanggaran terhadap pantangan-pantangan di kampung lama akan berdampak pada perubahan iklim yang tidak biasa, seperti kemarau berkepanjangan atau musim hujan berkepanjangan.

Ben Namang mengatakan sejak dahulu kala, para leluhur sudah mewarisi pesan supaya pohon-pohon di kampung lama harus dirawat. Selain untuk menghormati leluhur, pantangan-pantangan itu ada untuk menjaga supaya area kampung lama tetap lestari.

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved