Tangkal Perundungan atau Cyberbullying pada Anak dengan Cara Praktis Ini

Tangkal Perundungan atau Cyberbullying pada Anak dengan Cara Praktis Ini

Penulis: Novemyleo
Editor: Novemyleo
EU
Narasumber Kegiatan Potensi IoT untuk Melawan Perundungan Digital pada Anak 

POSKUPANGWIKI.COM - Tangkal Perundungan atau Cyberbullying pada Anak dengan Cara Praktis Ini

Cyberbullying merupakan bentuk intimidasi yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk keperluan yang disengaja, dilakukan terus menerus, dengan tujuan merugikan orang lain dengan cara mengintimidasi, mengancam, menyakiti atau menghina harga diri orang lain.

Angka perundungan anak di media digital sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan dan harus menjadi perhatian semua pihak untuk melakukan upaya dalam menanggulanginya.

Korbannya semakin banyak dan berdampak panjang, mulai dari depresi hingga bunuh diri.

Jejak digital memang sulit dihilangkan, karenanya cyberbullying jauh lebih kejam dibandingkan bullying yang lingkupnya dapat dilokalisasi.

Untuk mencegah perundungan pada anak maka belum lama ini, diselenggarakan kegiatan virtual bertema Potensi IoT dalam Menangkal Cyberbullying pada Anak atau Lawan Perundungan Digital pada Anak Melalui Internet of Things (IoT)

Kegiatan yang diselenggarakan oleh EU menghadirkan narasumber Ruby Alamsyah, Pendiri dan CEO Digital Forensic Indonesia (DFI) dan Penggagas Indonesian Cyber Crime Combat Center (IC4) dan Fita Indah Maulani, Sekretaris Jenderal Asosiasi Internet of Things Indonesia (ASIOTI).

Yulia Maroe, EUPOP, mengatakan, survei tahun 2018 oleh Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII) tentang penetrasi internet dan perilaku pengguna internet mengungkapkan bahwa 49 persen dari 5.900 responden mengaku pernah diintimidasi secara online, dimana Twitter menjadi medium terjadinya cyberbullying dengan kasus terbanyak 42 persen.

Upaya melindungi masyarakat melalui Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) sudah diberlakukan.

Namun upaya preventif secara mandiri oleh netizen juga perlu ditingkatkan, misalnya jangan menerima pertemanan dari orang yang tidak dikenal, membagikan informasi pribadi, hindari meng-install aplikasi dari tempat tidak resmi, hindari menggunakan fitur check-in, serta jangan mudah terprovokasi, dan bereaksi agresif.

Bila sudah terjadi tindak cyberbullying, simpan pesan atau email sebagai bukti digital, log off dari situs atau tempat terjadi, blokir pesan dan jangan menanggapi mereka. Jika sudah sangat meresahkan, laporkan kejadian tersebut pada orang dewasa, orangtua atau pihak berwajib.

Dalam diskusi virtual itu, Margus Solnson, Head of Political, Press and Information Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia mengatakan, “Teknologi digital berkembang pesat dan sangat membantu kehidupan kita, termasuk dan terutama proses belajar serta pekerjaan."

Namun hal tersebut harus disikapi dengan bijaksana, karena teknologi mengandung potensi positif maupun negatif. Kami berharap sesi berbagi hari ini mampu memberikan pencerahan dan motivasi untuk menggunakan kekuatan IoT melawan perundungan digital pada anak.

"Tunjukkan kemampuanmu dan ikuti kompetisi EU Social DigiThon,” gugahnya pada Sesi Berbagi Pengetahuan “Potensi IoT untuk Melawan Perundungan Digital pada Anak”, baru-baru ini," kata Margus Solnson.

Narasumber Kegiatan Potensi IoT untuk Melawan Perundungan Digital pada Anak
Narasumber Kegiatan Potensi IoT untuk Melawan Perundungan Digital pada Anak (EU)

Pada paparannya Ruby Alamsyah, Pendiri dan CEO Digital Forensic Indonesia (DFI) serta Penggagas Indonesian Cyber Crime Combat Center (IC4) mengawalinya dengan sebuah hasil penelitian dari APJII.

Angka pengguna internet di Indonesia semakin meningkat, namun banyak yang belum paham etika atau perilaku dalam mengidentifikasi hal-hal negatif dari internet.

"Penting bagi orangtua untuk memahami digital parenting, mendampingi, mengontrol dan mengawasi, membatasi jam main online. Aktifkan parenting control, pilihkan platform yang boleh dimainkan, dan sekaligus memberi pemahaman bagi anak untuk melindungi dirinya,” jelas Ruby Alamsyah.

Beberapa kategori cyberbullying adalah harassment (pesan mengandung penghinaan), impersonation (membuat akun palsu seseorang untuk mempermudah pelaku melancarkan aksinya), cyberstalking (menguntit dan meneror), pencemaran nama baik, pemerasan, trolling (membuat komentar yang menyakitkan), outing (pura-pura menjadi teman tetapi kemudian mempermalukan korban), hingga doxing (menyebarluaskan informasi pribadi secara online).

“Untuk melindungi anak kita, orangtua jangan melimpahkan tanggung jawab bergawai kepada anak, namun tetap mengawal dan mengawasi penuh terhadap apa yang diberikan kepada anak. Think before click, think before post. Ingat, internet adalah ranah publik,” tegas Ruby Alamsyah.

Lantas, bagaimana cara mengatasi cyberbullying pada anak jika dilihat dari potensi teknologi? 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved