Pengungsi Afghanistan Ke Kantor Gubenrur NTT Minta Bantuan Viktor Laiskodat dan Presiden Jokowi

Pengungsi Afghanistan di Kota Kupang kembali melakukan aksi damai ke-10 di depan kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis, 28 Oktober 2021.

Penulis: Novemyleo
Editor: Novemyleo
POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO
Para pengungsi Afghanistan yang tinggal di Kupang, Provinsi NTT, saat aksi damai ke-10 di Kantor Gubernur NTT, Kamis (28/10/2021) siang. 

POSKUPANG.COM - KUPANG - Pengungsi Afghanistan di Kota Kupang kembali melakukan aksi damai ke-10 di depan kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis, 28 Oktober 2021.

Dalam orasinya mereka minta Presiden Jokowi dan Gubernur NTT, Viktor B Laiskodat mebantu mereka bisa diresettlement atau berangkat ke Negara ketiga.

Disaksikan Pos Kupang, sedikitnya 60-an pengungsi asal Afghanistan datang ke Kantor Gubenur NTT sejak pukul 10.00 Wita hingga pukul 12.00. Tua muda, balita, anak-anak, remaja, dewasa, laki-laki dan perempuan, semua terlibat dalam aksi damai dimaksud.

Mereka berbaris rapi di trotoar depan kantor Gubenur, menghadap ke ruas jalan utama dan berorasi secara bergantian. Mereka memegang sejumlah spanduk dan kertas karton bertuliskan berbagai kondisi dan harapan mereka seperti : “9 Tahun Cukup; 10 Tahun Cukup; We Want Resettlement; Do Not Treat Us Politically Please; Stop Torturei;  14 Pengungsi sudah bunuh diri;  Stop Making Profit Through Refugees;  Stop Business,  Do Not Keep Us As Hostage;  Kami Manusia Bukan Produk; Why United Nation Ignore The Massacre Of Hazara; Refugees Are Not Terorists, They Are Often The First Victims Of Terorism; We hope our cry for freedom could be heard by third resettlement countries, please help afghan refugees in Indonesia.”

Sejumlah perempuan yang memiliki bayi ikut berpartisipasi dan saat kelelahan mereka berteduh di bawah pohon dibalik pagar kantor gubenur sambil menyusui bayinya. Anak-anak pengungsi berusia 3 – 5 tahun bermain di sekitar lokasi dan sesekali ikut berteriak mensuport orangtuanya.

Para pengungsi Afghanistan yang tinggal di Kupang, Provinsi NTT, saat aksi damai ke-10 di Kantor Gubernur NTT, Kamis (28/10/2021) siang.
Para pengungsi Afghanistan yang tinggal di Kupang, Provinsi NTT, saat aksi damai ke-10 di Kantor Gubernur NTT, Kamis (28/10/2021) siang. (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)

Sejumlah pengungsi, Kubra Hassani (32), Abbas (37), Khadis Khademi (16),kepada Pos Kupang mengungkapkan harapan mereka.

"Di sini tidak ada kantor UNHCR berarti kita tidak ada akses ke UNHCR. Kalau IOM selama dua tahun pandemi mereka tidak bisa ketemu tatap muka hanya respon dengan WA (WhatsApp)," kata Kubra, ibu dua anak yang sudah 6 tahun di Kupang.

Menurut Kubra, ada pengungsi yang sudah berada di Kupang selama 10 tahun dan belum masuk proses resettlement ke negara ketiga. Dia berharap Pemerintah Indonesia dan UNHCR pusat bisa membantu mereka, pengungsi yang terlupakan di Kupang. Kubra perihatin banyak anak pengungsi yang tak mendapatkan akses pendidikan dan kesehatan yang baik.

"Kita tidak punya hak selama enam tahun. Kita minta bantu dari pemerintah dari Pak Gubernur, dari pusat, Jokowi, semua bantu kita karena kita sudah terlupa di sini," ujar Kubra.

Kubra menilai, proses resettlement di Kupang lebih lama dibandingkan kota lain di Indonesia. “Karena kita jauh dari ibukota Negara dan disini tidak ada kantor dari UNHCR berarti tidak ada yang urus kami dengan benar. Memang kita sudah terlupa," tambahnya.

Meskipun Indonesia khususnya Kupang merupakan negara dan kota yang damai, tapi status pengungsi membuat mereka tak bisa melakukan apa-apa. Tak bisa bekerja, tak bisa menyekolahkan anak-anak ke sekolah formil.  

“Kami seperti di penjara karena tidak bisa mendapat pendidikan, tidak bisa bekerja dan tidak bisa dapat identitas. Tidak ada orang yang suka penjara," katanya.

AKSI DAMAI – Para pengungsi Afghanistan yang tinggal di Kupang, Provinsi NTT, saat aksi damai ke-10 di Kantor Gubernur NTT, Kamis (28/10/2021) siang.
AKSI DAMAI – Para pengungsi Afghanistan yang tinggal di Kupang, Provinsi NTT, saat aksi damai ke-10 di Kantor Gubernur NTT, Kamis (28/10/2021) siang. (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)

Hal senada dikatakan Abbas, yang ingin ke Negara ketiga untuk memulai kehidupan sebagai manusia yang punya hak akan identitas, pekerjaan dan tak lagi berstatus pengungsi.

“Katong (kami) butuh proses, katong sudah lama disini sudah 10, 9, dan 8 tahun. Kita punya Negara sudah hancur, kita punya keluarga tidak ada kabar, kita hanya minta bantu dari Presiden Indonesia, Bapak Gubernur NTT, bantu katong pindah ke Negara Ketiga,” kata Abbas yang sudah bisa berbahasa Kupang.

Hadis Khademi sudah 7 tahun menjadi pengungsi di Kupang namun tak mendapatkan akses pendidikan.

“Saya tidak mendpatakan apa apa disini, di indonesia pengungsi seperti kami tidak bisa melakukan pekerjaan apapun," kata Hadis.Selama 7 tahun di Indonesia hadis tidak melakukan apa apa.

Abbas, pengungsi Afghanistan
Abbas, pengungsi Afghanistan (pk/vel)

"Saya belajar beberapa kata bahasa Inggris di rumah sendiri tanpa pendidikan formal , tapi untuk belajar matematika dan science tidak bisa. Karena tidak ada akses pedidkan jadi tidak ada alasan saya tinggal disini," katanya.  

Menurutnya, semua pelajaran di Kupang menggunakan Bahasa Indonesia sehingga sulit pengungsi pahami.

"Kami sudah kehilangan masa kecil dan masa remaja kami, dimana kami tidak bisa menikmati apapun termasuk akses pendidikan," kata Hadis dengan mata berkaca-kaca.

Sebagai seorang anak remaja kami layak mendapatkan pendidikan. Hadis ingin menjadi seorang pengacara.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved