Kami Bukan Teroris, Pergulatan Memeluk Islam di Kupang yang Mayoritas Warganya Protestan

Kami Bukan Teroris, Pergulatan Memeluk Islam di Kupang yang Mayoritas Warganya Protestan.

Editor: Novemyleo
Atia Kurniawati Jamal
Kunjungan ke Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) Kupang bersama peserta Workshop Mahasiswa Anak Muda Suarakan Keberagaman di Kupang, 20 Juni 2021. 

POSKUPANGWIKI.COM - Kami Bukan Teroris, Pergulatan Memeluk Islam di Kupang yang Mayoritas Warganya Protestan.

Apa tantangan menjadi muslim di daerah yang mayoritas penduduknya beragama Kristen? Jalan hidup seperti apakah yang harus dilalui orang-orang Islam yang memilih tinggal di sebuah wilayah di Indonesia timur yang pernah dinobatkan sebagai kota paling toleran?

Sebagai perempuan muslim yang pernah diusir dari rumah salah seorang penduduk Kupang karena dituduh sebagai teroris, toleransi buat saya adalah mimpi manis yang tidak mungkin terjadi begitu saja tanpa diupayakan bersama-sama.

Dari pengalaman itu pula saya mencoba menguatkan diri dengan cara “memotret” dinamika atau tantangan yang dihadapi orang-orang Islam yang hidup di ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Ini ikhtiar saya, yang lahir dan besar dari sebuah kabupaten dengan mayoritas penduduk beragama Kristen, Alor, untuk tetap membuka mata dan bersama-sama dengan orang banyak meneguhkan pentingnya menghormati keberagaman di mana saja saya berada.

Malam itu saya menghampiri Erwin Oktapian, seorang Muslim yang berasal dari Banjar, Jawa Barat, yang kemudian pindah ke Kupang. Perbincangan kami mengalir dengan berbagai cerita tentang dinamika mengarungi hidup di pusat pemerintahan, perdagangan, dan perekonomian NTT yang dihuni oleh warga yang berbeda suku, etnis, bahasa, dan agama atau keyakinannya.

Sebelum pindah, Erwin sudah mempunyai kawan yang dijumpai lewat media sosial yang berasal dari Kupang, Atambua, dan daerah NTT lainnya. Erwin ke Kupang Maret 2016 untuk mengadu nasib sambil melanjutkan pendidikan. Kini lulusan Universitas Nusa Cendana Kupang (2021) ini mendapat pekerjaan mengajar di SMA Negeri 8 Kupang.

Kunjungan ke Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) Kupang bersama peserta Workshop Mahasiswa Anak Muda Suarakan Keberagaman di Kupang, 20 Juni 2021.
Kunjungan ke Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) Kupang bersama peserta Workshop Mahasiswa Anak Muda Suarakan Keberagaman di Kupang, 20 Juni 2021. (sejuk)

Dari toleransi ke diskriminasi

Awal kedatangan di Kupang, Erwin merasa agak aneh karena melihat banyak keberagaman suku, bahasa dan agama. Sementara sejak kecil di Banjar, Jawa Barat, ia sangat akrab dengan suara azan pada saat masuk waktu salat. Begitupun suara orang-orang mengaji sebelum masuk waktu salat karena di setiap penjuru kota banyak masjid.

“Setelah sampai Kupang, aku jarang mendengarkan azan, karena masjid juga jauh dari tempat tinggalku,” ungkap pria yang selama di ‘Kota Karang’ masih tinggal bersama kerabat dari Jawa Barat.

Karena perkenalan hanya di media sosial, sesampainya di Kupang Erwin tidak mempunyai teman dekat. Ini yang menyebabkan Erwin semakin merasakan banyak perbedaan beserta seluruh tantangannya hidup di daerah yang sekarang ditinggalinya jika dibandingkan dengan tempatnya dilahirkan.

Namun demikian, pemuda kelahiran 1996 ini bersyukur lantaran tidak pernah mendapatkan perlakuan yang yang tidak baik dari warga Kupang. Sudah 5 tahun lebih berbaur dengan masyarakat dari NTT Erwin tidak mendapati sikap dan perlakuan intoleran.

“Alhamdulillah, meskipun kita muslim, sebagai minoritas, tapi sikap toleransi di Kupang sangat tinggi,” kata pria beretnis Sunda ini.

Sebagai kawan di kampus yang sama, saya melihat interaksi Erwin dengan lingkungan sekitar cukup akrab dan hampir tidak punya masalalah dalam beradaptasi. Selama kuliah ia aktif di Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Meski begitu, ia tidak memilih-milih dengan siapa harus berteman di kalangan civitas akademika Universitas Nusa Cendana yang mayoritas mahasiswa dan dosennya beragama Kristen.

Bagi Erwin berteman dengan yang bukan sesama muslim itu hal yang biasa. “Mereka tidak memandang suku dan agama. Tidak pernah saya merasa diintimidasi sebagai seorang yang minoritas.”

Hingga detik ini tinggal di Kupang, Erwin hampirr tak pernah menerima diskriminasi dari diskriminasi dari lingkungan tempat tinggalnya sehari-hari, kampus, bahkan lingkungan pekerjaaan.

“Pernah saya salat di kos-nya teman yang berbeda keyakinan (agama) dengan saya. Dan dia baik-baik saja malah mereka menyediakan tempat. Kami sering berbuka puasa bersama. Teman-teman saya sering juga menyediakan takjil lalu kami berbuka bersama,” ujar Erwin.

Berbeda dengan Erwin yang berasal dari daerah Jawa, seorang sahabat yang sudah saya anggap sebagai adik sendiri mempuyai cerita unik. Neneng Huliah. Ia juga mahasiswa Universitas Nusa Cendana Kupang. Perempuan yang kini berusia 23 tahun ini sudah saya kenal semenjak kami masuk sebagai mahasiswa baru.

Neneng berasal dari Ende, kota kecil di NTT yang dijuluki sebagai kota Pancasila. Kota pengasingan Presiden Pertama RI Ir. Soekarno.

Di kampung halamannya, Neneng sudah terbiasa hidup berdampingan dengan teman-teman yang bukan muslim. Sebab, masyarakat Ende mayoritas Katolik.

“Kata toleransi itu saya tidak terlalu paham karena memang keseharian kami hidup damai berdampingan dengan teman-teman yang bukan muslim. Baru saya sadari ketika masuk kuliah kalau hidup kami yang berdampingan itu disebut toleransi,” kata Neneng.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved