Surat Cinta Pengungsi Afghanistan di Kupang untuk Pimpinan DPRD Provinsi NTT

Pengungsi Afghanistan di Kupang Beri Surat Cinta untuk Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi NTT.

Penulis: Novemyleo
Editor: Novemyleo
POSKUPANGWIKI.COM/ NOVEMY LEO
Pengungsi afghanistan melakukan aksi damai di depan Kantor DPRD NTT, Kamis (11/11/2021) 

POSKUPANG.COM, KUPANG - Pengungsi Afghanistan di Kupang Beri Surat Cinta untuk Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi NTT.

'Surat cinta' sebanyak 3 lembar itu berisi sejumlah harapan, keinginan, kebutuhan serta kondisi 200-an pengungsi Afghanistan yang selama ini menetap di Kota Kupang.

Dua wakil pengungsi, M Hadi Yawari dan Mohammad Ali didampingi seorang anggota Polisi dari Polres Kupang Kota, Ipda Kornelis masuk ke Gedung DPRD untuk memberikan surat itu ke pemimpin DPRD NTT, Kamis (11/11/2021) siang.

Hadi dan Ali kemudian diarahkan menemui ke Plt Kabag Umum, Ahmad Dahlan. Setelah membaca surat itu, Ahmad Dahlan meminta dua perwakilan pengungsi dimaksud untuk menuliskan nama dan nomor teleponnya di akhir surat itu agar bisa melakukan koordinasi lanjutan.

"Suratnya semua masalah pengungsi, semua masalah, karmana sudah kita disini, tujuan kita harus kemana. Minta bantuan dari DPRD, dari pengungsi di Indonesia dan Kupang," kata Hadi dalam Bahasa Indonesia yang belum fasih.

Hadi mengatakan, surat itu meminta dukungan atas nasib pengungsi pencari suaka.

Sementara itu disaksikan Pos Kupang, diluar Gedung DPRD NTT tepatnya di depan pagar gedung rakyat itu, puluhan pengungsi Afghanistan melakukan orasi dalam aksi damainya.

Secara bergantian sejumlah pengungsi, laki-laki dan perempuan menyuarakan harapannya. Mereka berjejer rapi di atas trotoar, membawa sejumpah spanduk dan kertas kartun berisi curhatan hati mereka.

Tua muda, dewasa, anak-anak hingga bayi, laki-laki dan perempuan berpartisipasi dalam aksi damai dimaksud.

Beberapa orang polisi nampak ikut mengawasi aksi para pengungsi Afghanistan yang berasal dari tiga lokasi tinggal yakni Kupang Inn Hotel, Ina Boi Hotel dan Lavender Hotel. 

Sejumlah anak-anak terlihat bermain tak jauh dari lokasi ayah ibunya melakukan aksi damai itu. Ada juga sejumlah pengungsi perempuan yang membawa bayinya. 

Pos Kupang menerima salinan surat itu, isinya sangat menyentuh.

Berikut isi dari 'surat cinta' pengungsi afghanistan di Kupang untuk Pimpinan DPRD NTT : 

Kami, komunitas pengungsi pencari suaka di kota Kupang dan seluruh Indonesia sangat berterimah kasih kepada Pemerintah Indonesia pada umumnya dan kepada Pemerintah Nusa Tenggara Timur khususnya, atas kerjasama tanpa syarat dengan komunitas pengungsi selama hampir satu dekade kami tinggal di berbagai wilayah Indonesia termasuk kota Kupang.

Jika diminta untuk memilih kami tidak ingin menjadi pengungsi. Melarikan diri dari tanah air adalah pilihan satu-satunya untuk bisa bertahan dan mempertahankan hidup kami. Tanah air tempat kami berasal, tidak lagi menjadi rumah yang aman bagi kami. Kami mati-matian meninggalkan tanah air, keluarga dan semua orang yang kami cintai untuk mencari keselamatan dan kelangsungan hidup.

Indonesia telah memberikan tempat perlindungan bagi kami, membuka tangan dan menyambut kami, meskipun untuk waktu yang singkat. Sebagian besar pengungsi di sini berasal dari negara-negara yang dilanda perang.

Alasan dibalik pelarian secara eksklusif relevan dengan konflik, genosida, pemberantasan etnis tertentu, diskriminasi sistematis, marginalisasi, sektarianisme, kebencian terhadap suatu agama, kebencian rasial, dan adanya pelanggaran Hak Asasi Manusia di masing-masing negara asal pengungsi. Kami, pengungsi yang ada di sini telah mengalami rasa sakit berbagai bentuk penderitaan yang sangat menyiksa, sulit untuk digambarkan dengan kata-kata.

Dengan kata lain, kami adalah korban ketidakadilan dan kekerasan di negara kami sendiri. Kami telah lolos dari ketakutan dan kematian, setelah melalui begitu banyak cobaan yang menegangkan. Kami pikir kami bisa bernafas lega saat tiba di Indonesia, namun ternyata tidaklah demikian.

Kami juga berpikir bahwa kami akan segera membawa keluarga kami yang masih tertinggal di negara untuk keluar dari bahaya dan bersatu kembali dengan mereka di negara yang aman, dimana kami menyebutnya rumah, dan kami dapat menggunakan hak kami dengan kebebasan penuh untuk kelangsungan hidup kami yang tidak pernah kami dapatkan di negara asal kami yang masih dalam situasi perang. Disana kami tidak aman di manapun.

Kami dibantai secara brutal dengan tidak berperikemanusiaan. Rumah, toko, sekolah, pusat pernikahan, tempat bisnis, tempat kendaraan untuk penumpang, pusat pendidikan, tidaklah aman dan telah hancur akibat serangan bom bunuh diriselama beberapa dekade.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved