Pelaku Tindak Kekerasan Seksual Seperti Serigala Berbulu Domba Menjerat Korban

Pelaku tindak kekerasan seksual seperti serigala berbulu domba dengan trik kepandaiannya menjerat korban.

Penulis: Novemyleo
Editor: Novemyleo
POSKUPANGWIKI.COM/ NOVEMY LEO
Talk Show Urgensi Implementasi Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 Tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan PT. Kegiatan difasilitasi LBH APIK NTT didukung Fakultas Hukum Undana, Justice Makers, Cari Layanan, Kamis (9/12/2021) di Aula vidcom Undana. Empat pembicara yakni Direktris LBH Apik NTT,  Ansy D Rihi Dara, SH,  Rektor Undana,  Dr.  drh.  MUE Sanam,  MSc,  Ketua DPRD NTT,  Emilia Julia Nomleni dan Dekan FH Undana,  Dr.  Renny RM,  SH,  MH. (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO) 

POSKUPANG.COM - Pelaku tindak kekerasan seksual seperti serigala berbulu domba dengan trik kepandaiannya menjerat korban. Karena itu berhati-hatilah terhadap teman, dosen, pegawai di kampus yang menunjukkan indikasi yang mengarah kepada bentuk kekerasan seksual.

Direktris LBH APIK NTT,  Ansy Rihi Dara, SH memberi pesan itu kepada peserta Talk Show Urgensi Implementasi Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 Tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan PT.

Kegiatan difasilitasi LBH APIK NTT didukung Fakultas Hukum Undana, Justice Makers, Cari Layanan, Kamis (9/12/2021) di Aula vidcom Undana. Empat pembicara yakni Direktris LBH Apik NTT,  Ansy D Rihi Dara, SH, Rektor Undana, Dr.  drh.  MUE Sanam,  MSc,  Ketua DPRD NTT,  Emilia Julia Nomleni dan Dekan FH Undana,  Dr.  Renny RM, SH, MH.

Ansy percaya semua pihak berkomitmen mewujudkan kampus merdeka, kampus bebas kekerasan. Kasus kekerasan seksual marak terjadi di kampus dan ini sangat memrihatinkan.

Secara nasional data statistik Permendikbusristek ada 77 persen dosen menyatakan pernah terjadi kekerasan di lingkungan kampus dan 63 persen diantaranya korban tak berani melapor karena berbagai pertimbangan.  

"Tapi saya juga perlu sampaikan riset dari virto rilis tahun 2019 dari 174 testimoni di 79 kampus di 29 kota juga terdapat 84 persen perempuan dan 4 persen laki menjadi korban kekerasan seksual di perguruan tinggi (PT)," kata Ansy.  

Ansy D Rihi Dara, SH, Direktris LBH APIK NTT, peraih Local Heroes Award Tribun Institute tahun 2020
Ansy D Rihi Dara, SH, Direktris LBH APIK NTT, peraih Local Heroes Award Tribun Institute tahun 2020 (ISTIMEWA/POS-KUPANG.COM)

Kondisi ini seperti fenomena gunung es, yang melapor yang bisa terdeteksi namun yang tidak melapor lebih banyak.  "Berdasarkan fakta riset itulah saya kira pemerintah secara serius dan memandang bahwa situasi ini perlu direspon terutama situasi kekerasan seksual di PT," kata Ansy. 

Ansy memberi apresiasi kepada Pemerintah karena tanggal 31 Agustus 2021 lalu telah mengeluarkan Permendikbudrisetek Nomor 30 tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan PT.

"Permendikbudristek ini kita harapkan mampu memberikan solusi atas kasus kekerasan seksual di kampus di seluruh Indonesia termasuk di NTT bisa  menjawab kegelisahan kita atas maraknya kasus kekerasan dan seksual di kampus. Pro kontra atas implemnetasi aturan ini tentu ada dan mesti dinilai sebagai bagian dari perhatian masyarakat,” kata Ansy.

Ansy berharap ada perubahan mindshet yang besar di lingkungan kampus baik mahasiswa, dosen dan segenap civitas aktifvitas terhadap penanganan kasus kekersan seksual di kampus.

Mahasiswa/I mesti peka terhadap perlakuan-perlakuan secara fisik dan verbal yang dilakukan dosen atau pelaku dalam berelasi.  Bnyak trik yang dilakukan pelaku untuk melancarkan aksi seksualitasnya.

“Dosen pura-pura memuji, kamu mahasiswa terbaik lalu mulai mencengkeram dan mencium, itu situasi sulit bagi korban. Tapi kondisi ini dilihat sangat permisif oleh banyak orang, lu yang ke ke-GR-an atau si dosen memang sangat perhatian. Padahal pelaku seperti serigala berbulu domba dengan trik kepandaiannya menjerat korban,” kata Ansy.  

Saat satgas terbentuk mesti banyak hal yang diluruskan seperti membongkar perspekstif dari masyarakat kampus, civitas akademika.

“Mau bikin satgas, mau ada SOP tapi tak ada perspektif  korban ya percuma. Libatkan stakeholder mulai dari mahasiswa, dosen, pendidikan, hingga satpam. Dan memastikan anggota satgas punya perspektif korban sehingga dalam penanganan dia tidak melihat ini enteng dan biasa saja,” kata Ansy.

Talk Show Urgensi Implementasi Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 Tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan PT. Kegiatan difasilitasi LBH APIK NTT didukung Fakultas Hukum Undana, Justice Makers, Cari Layanan, Kamis (9/12/2021) di Aula vidcom Undana. Empat pembicara yakni Direktris LBH Apik NTT,  Ansy D Rihi Dara, SH,  Rektor Undana,  Dr.  drh.  MUE Sanam,  MSc,  Ketua DPRD NTT,  Emilia Julia Nomleni dan Dekan FH Undana,  Dr.  Renny RM,  SH,  MH. (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)
Talk Show Urgensi Implementasi Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 Tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan PT. Kegiatan difasilitasi LBH APIK NTT didukung Fakultas Hukum Undana, Justice Makers, Cari Layanan, Kamis (9/12/2021) di Aula vidcom Undana. Empat pembicara yakni Direktris LBH Apik NTT,  Ansy D Rihi Dara, SH,  Rektor Undana,  Dr.  drh.  MUE Sanam,  MSc,  Ketua DPRD NTT,  Emilia Julia Nomleni dan Dekan FH Undana,  Dr.  Renny RM,  SH,  MH. (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO) (POSKUPANGWIKI.COM/ NOVEMY LEO)


Ansy berharap kampus tak berlindung dibalik nama baik kampus sehingga korban diintimidasi dan kasus tak diselesaikan dengan baik dan benar.

Merubah paragdigma berpikir bahwa kampus yang merdeka, kampus yang ramah atau menjaga nama baik kampus itu terwujud ketika kampus mampu mengungkapkan, mencegah dan menangani kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan dengan baik, benar dan transparan serta memihak korban dan hal ini bukan aib kampus.

“Besar harapan kami, persoalan di kampus bisa dibuka terang benderang, tidak lagi menggunakan alasan menjaga nama baik kampus untuk sembunyikan berbagai persoalan khususnya tindak kekerasan seksual di kampus. Tidak perlu kecil hati karena ini kenyataan yang terjadi hamper di seluruh Indonesia dan juga di NTT,” kata Ansy. (vel)

Peserta Talk Show Urgensi Implementasi Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 Tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan PT, Kamis (9/12/2021) di Aula vidcom Undana (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)
Peserta Talk Show Urgensi Implementasi Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 Tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan PT, Kamis (9/12/2021) di Aula vidcom Undana (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO) (POSKUPANGWIKI.COM/ NOVEMY LEO)

20 Tindakan Kekerasan Seksual di LIngkungan Perguruan Tinggi berdasarkan Permendikbudristek 30/2021 :

1. Menyampaikan ujaran yang mendiskriminasi atau melecehkan tampilan fisik, kondisi tubuh, dan/atau identitas gender Korban
2. Memperlihatkan alat kelaminnya dengan sengaja tanpa persetujuan Korban
3. Menyampaikan ucapan yang memuat rayuan, lelucon, dan/atau siulan yang bernuansa seksual pada Korban
4. Menatap korban dengan nuansa seksual dan/ atau tidak nyaman
5. Mngirimkan pesan, lelucon, gambar, foto, audio, dan/ atau video bernuansa seksual kepada Korban meskipun sudah dilarang Korban
6. Mengambil, merekam, dan/atau mengedarkan foto dan/atau rekaman audio dan/atau visual Korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan Korban
7. Mengunggah foto tubuh dan/atau informasi pribadi Korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan Korban
8. menyebarkan informasi terkait tubuh dan/atau pribadi Korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan Korban
9. mengintip atau dengan sengaja melihat Korban yang sedang melakukan kegiatan secara pribadi dan/atau pada ruang yang bersifat pribadi
10. Membujuk, menjanjikan, menawarkan sesuatu, atau mengancam Korban untuk melakukan transaksi atau kegiatan seksual yang tidak disetujui oleh Korban
11. Memberi hukuman atau sanksi yang bernuansa seksual
12. Menyentuh, mengusap, meraba, memegang, memeluk, mencium dan/ atau menggosokkan bagian tubuhnya pada tubuh Korban tanpa persetujuan Korban
13. Membuka pakaian Korban tanpa persetujuan Korban
14. Memaksa Korban untuk melakukan transaksi atau kegiatan seksual
15. Mempraktikkan budaya komunitas Mahasiswa, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan yang bernuansa Kekerasan Seksual
16. Melakukan percobaan perkosaan, namun penetrasi tidak terjadi
17. Melakukan perkosaan termasuk penetrasi dengan benda atau bagian tubuh selain alat kelamin
18. Memaksa atau memperdayai Korban untuk melakukan aborsi
19. Memaksa atau memperdayai Korban untuk hamil
20. Membiarkan terjadinya Kekerasan Seksual dengan sengaja; dan/atau
melakukan perbuatan Kekerasan Seksual lainnya

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
2087 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved